Jakarta, IDN Times - Indonesia dipastikan akan meningkatkan impor minyak mentah dan gas dari Amerika Serikat (AS). Nilai impor itu mencapai 15 miliar dolar AS per tahun atau setara sekitar Rp253,23 triliun. Kebijakan ini merupakan bagian dari Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang menetapkan tarif resiprokal 19 persen bagi sejumlah produk Indonesia ke AS.
Menanggapi hal itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan pembelian BBM ini tidak menambah volume impor secara keseluruhan. Pemerintah menyiasatinya dengan menggeser sebagian volume impor, khususnya dari negara-negara Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika.
"15 miliar US dolar yang kita alokasikan untuk membeli BBM di Amerika Serikat bukan berarti kita menambah volume impor. Namun kita menggeser sebagian volume impor kita dari beberapa negara, di antaranya negara dari Asia Tenggara, middle east, maupun di beberapa negara di Afrika. Secara keseluruhan neraca komoditas pembelian BBM kita dari luar negeri itu sama, cuma kemudian kita geser," kata dia dalam jumpa pers, Jumat (20/2/2026) malam.
Bahlil menegaskan, perjanjian AS dan Indonesia ini sudah dibuat secara jelas untuk memberikan keseimbangan neraca perdagangan. Bahlil tak memungkiri kebijakan impor dari AS ini jadi yang paling besar dalam sejarah Indonesia.
"Kita dari sektor ESDM akan membelanjakan kurang lebih sekitar 15 miliar US dolar. 15 miliar dolar ini terdiri dari membeli BBM jadi, LPG, dan crude," ungkapnya.
"Sudah barang tentu, ini adalah merupakan langkah sejarah baru kita membeli dalam jumlah cukup besar," Bahlil menambahkan.
