Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Benarkan WFH-1 Bisa Bikin Hemat BBM?
ilustrasi BBM (IDN Times/Aditya Pratama)
  • Pemerintah menyiapkan kebijakan Work From Home Satu Hari (WFH-1) untuk ASN dan pekerja swasta guna menekan subsidi BBM akibat lonjakan harga minyak dunia.
  • Pengamat menilai efektivitas WFH-1 diragukan karena tanpa faktor paksaan, serta berpotensi menurunkan pendapatan sektor transportasi, UMKM, dan produktivitas manufaktur.
  • Kenaikan harga minyak dunia akibat konflik di Selat Hormuz membuat subsidi BBM membengkak, memicu inflasi impor, melemahkan rupiah, dan menekan daya beli masyarakat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah mengungkapkan telah menyiapkan serangkaian kebijakan efisiensi guna meminimalisir risiko dan dampak kenaikan harga minyak dunia imbas penutupan Selat Hormuz. Salah satunya adalah dengan menerapkan Work From Home Satu Hari (WFH-1) usai Lebaran ini.

Kebijakan itu membuat para aparatur sipil negara (ASN) dan pekerja swasta bisa mengambil waktu WFH satu hari dalam seminggu hari kerja. Adapun tujuannya adalah untuk memangkas membengkaknya subsisi Bahan Bakar Minyak (BBM) karena kenaikan harga minyak dunia.

Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa pun memprediksi jika WFH-1 efektif diterapkan bagi seluruh ASN dan pekerja swasta secara konsekuen, maka penghematan konsumsi BBM bisa mencapai 20 persen.

“Masalahnya, tidak mudah mengerahkan seluruh ASN dan pekerja swasta untuk memberlakukan WFH-1 secara konsekuen, karena menyangkut perubahan perilaku kerja,” ujar Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi dalam pernyataan tertulisnya, Minggu (22/3/2026).

1. Konsumsi BBM tidak dapat dihemat secara signifikan

ilustrasi BBM (IDN Times/Aditya Pratama)

Fahmy menilai, penghematan konsumsi BBM tidak akan signifikan jika ASN dan pekerja swasta alih-alih WFH, tetapi malah memilih bekerja dari mana saja alias Work From Anywhere (WFA) di tempat wisata sekalian menikmati long weekend.

“Saat pandemi COVID-19, WFH cukup berhasil menghemat BBM karena ada variabel paksa agar tidak tertular COVID-19, sedangkan variabel paksa tidak ada pada WFH-1. Tanpa variabel paksa, sangat sulit WFH-1 bisa diterapkan secara konsekuen,” tutur dia.

2. Dampak penerapan WFH-1

ilustrasi WFH (pexels.com/Vlada Karpovich)

Selain itu, sambung Fahmy, WFH-1 berpotensi menurunkan pendapatan bagi sektor transportasi, termasuk jasa ojek online (ojol), warung-warung UMKM yang selama ini menyediakan makan siang bagi ASN dan pekerja swasta, dan usaha lainnya.

Bukan hanya itu, mewajibkan WFH-1 bagi pekerja swasta yang bekerja di sektor manufkatur juga akan menurunkan produktivitas kerja yang merugikan bagi sektor manufaktur.

“Pemerintah sebaiknya mempertimbangkan masak-masak dengan menghitung secara teliti cost and benefit WFH-1. Jangan sampai penerapan WFH-1 memberikan manfaat (benefit) penghematan subsidi BBM, tetapi sektor lain yang harus menanggung biayanya (cost),” kata Fahmy.

3. Pembengkakan subsidi BBM

Ilustrasi harga minyak naik (IDN Times/Arief Rahmat)

Penutupan Selat Hormuz akibat konflik Iran vs AS-Israel telah memicu meroketnya harga minyak dunia hingga di atas 100 dolar AS per barrel. Pada 20 Maret 2026, harga minyak Brent mencapai 112,19 dolar AS per barrel.

Sebagai net importer, meroketnya harga minyak dunia pasti berdampak signifikan terhadap ekonomi Indonesia. Dampak tersebut di antaranya adalah membengkakan subsidi BBM pada APBN.

Hal tersebut kemudian bisa menyulut kenaikan imported inflation,  diperkirakan pada Maret 2026 sekitar 3,07 persen - 4,8 persen year-on-year yang menurunkan daya beli rakyat, dan melemahkan kurs rupiah yang sempat tembus Rp 17.000 per satu dolar AS.

Editorial Team