Jakarta, IDN Times - Bank Indonesia (BI) menilai nilai tukar rupiah saat ini masih berada di bawah nilai fundamental ekonomi (undervalued).
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyampaikan kondisi tersebut lebih dipengaruhi oleh faktor teknikal dan meningkatnya premi risiko global, meskipun indikator fundamental domestik menunjukkan kinerja yang solid.
"Bank Indonesia memandang nilai tukar Rupiah telah dinilai rendah (undervalued) dibandingkan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia, termasuk konsistensi dengan pengendalian inflasi sesuai sasaran 2,5±1 persen pada 2026 dan 2027,” kata Perry dalam Konferensi Pers, Kamis (19/2/2026).
