Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi pria pilih baju
ilustrasi pria pilih baju (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Intinya sih...

  • Cara menyampaikan cerita produkProduk premium hampir selalu punya cerita. Cerita membuat produk terasa lebih hidup dan tidak sekadar barang. Saat konsumen tahu latar belakang produk, mereka lebih mudah menghargainya.

  • Fokus pada detail kecil yang konsistenKesan premium sering lahir dari hal-hal kecil yang konsisten. Konsistensi menciptakan rasa profesional dan terpercaya. Produk yang sama akan terasa berbeda jika detailnya dikelola dengan rapi.

  • Berhenti menjual murah, mulai menjual alasanMenggeser fokus dari harga ke alasan membeli membuat produk punya posisi yang lebih kuat. Jelaskan kenapa produk ini relevan, siapa yang cocok, dan masalah apa yang diselesaikan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak pebisnis mengira produk harus mahal dulu baru bisa terlihat premium. Akibatnya, fokus langsung ke bahan mahal atau fitur berlebihan, padahal pasar belum tentu butuh itu. Padahal kesan premium sering lahir bukan dari produknya saja, tapi dari cara produk tersebut dipersepsikan.

Produk yang sebenarnya biasa saja bisa naik kelas jika dikemas dengan strategi yang tepat. Bukan menipu konsumen, tapi menonjolkan nilai yang selama ini tersembunyi. Bisnis hack ini membahas cara membuat produk terlihat lebih bernilai tanpa harus mengubah inti produknya.

1. Cara menyampaikan cerita produk

ilustrasi baca deskripsi produk (pexels.com/Hanna Pad)

Produk premium hampir selalu punya cerita. Bukan cerita dibuat-buat, tapi alasan kenapa produk itu ada dan bagaimana proses di baliknya. Cerita membuat produk terasa lebih hidup dan tidak sekadar barang.

Saat konsumen tahu latar belakang produk, mereka lebih mudah menghargainya. Bahkan produk sederhana bisa terasa spesial jika ceritanya relevan. Di titik ini, nilai emosional mulai bekerja.

2. Fokus pada detail kecil yang konsisten

ilustrasi beli sepatu (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

Kesan premium sering lahir dari hal-hal kecil yang konsisten. Mulai dari cara membalas chat, kerapian kemasan, hingga bahasa yang digunakan saat berkomunikasi. Hal kecil ini sering diabaikan karena dianggap tidak langsung menghasilkan uang.

Padahal konsumen sangat peka pada detail. Konsistensi menciptakan rasa profesional dan terpercaya. Produk yang sama akan terasa berbeda jika detailnya dikelola dengan rapi.

3. Berhenti menjual murah, mulai menjual alasan

ilustrasi bisnis thrift (pexels.com/artmarie)

Produk biasa sering diposisikan hanya lewat harga. Akibatnya, konsumen membandingkan semata-mata angka. Di titik ini, kesan premium hampir mustahil muncul.

Menggeser fokus dari harga ke alasan membeli membuat produk punya posisi yang lebih kuat. Jelaskan kenapa produk ini relevan, siapa yang cocok, dan masalah apa yang diselesaikan. Saat alasan kuat, harga tidak lagi jadi satu-satunya pertimbangan.

4. Batasi pilihan agar terlihat lebih eksklusif

ilustrasi pria belanja baju (pexels.com/Hispanolistic)

Terlalu banyak varian sering membuat produk terlihat massal. Konsumen justru bingung dan sulit menentukan pilihan. Produk premium biasanya menawarkan opsi yang lebih terkurasi.

Dengan membatasi pilihan, produk terasa lebih fokus dan eksklusif. Konsumen merasa dibantu, bukan dibanjiri opsi. Sedikit tapi tepat sering terasa lebih bernilai daripada banyak tapi membingungkan.

5. Bangun pengalaman, bukan sekadar transaksi

ilustrasi struk belanja (pexels.com/supersizer)

Produk biasa terasa biasa karena proses belinya juga biasa. Tidak ada kesan, tidak ada pengalaman yang diingat. Padahal pengalaman sering lebih membekas daripada produknya sendiri.

Mulai dari after sales, cara follow up, hingga bagaimana produk dipresentasikan, semuanya membentuk pengalaman. Saat konsumen merasa diperlakukan dengan baik, produk otomatis naik kelas di kepala mereka.

Membuat produk terlihat premium tidak selalu soal menaikkan biaya produksi. Lebih sering soal mengubah cara berpikir dan cara menyajikan nilai. Persepsi dibangun dari konsistensi, cerita, dan pengalaman.

Produk yang sama bisa dipandang berbeda tergantung bagaimana ia diposisikan. Saat nilai disampaikan dengan tepat, produk biasa pun bisa terasa layak dihargai lebih. Di situlah bisnis mulai naik kelas tanpa harus mengorbankan efisiensi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team