ilustrasi pria memegang banyak uang dolar (Pexels.com/Aukid phumsirichat)
Perry menyatakan, BI terus mengoptimalkan instrumen moneter pro-market untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dan pencapaian sasaran inflasi. Instrumen tersebut meliputi SRBI, SVBI, dan SUVBI, dengan posisi masing-masing tercatat sebesar Rp775,45 triliun, 1,82 miliar dolar AS, dan 267 juta dolar AS hingga 15 Juli 2024.
“Kebijakan ini juga dimaksudkan untuk mempercepat upaya pendalaman pasar uang dan mendukung aliran masuk modal asing ke dalam negeri,” tuturnya.
Penerbitan SRBI telah mendukung aliran masuk portofolio asing, yang tercermin dari kepemilikan nonresiden mencapai Rp220,35 triliun atau 28,42 persen dari total outstanding.
Implementasi Primary Dealer (PD) sejak Mei 2024 juga memperkuat efektivitas SRBI dalam mendukung stabilitas nilai tukar rupiah dan pengendalian inflasi.
“Ke depan, Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan berbagai inovasi instrumen pro-market baik dari sisi volume maupun daya tarik imbal hasil, dan didukung kondisi fundamental ekonomi domestik yang kuat, untuk mendorong berlanjutnya aliran masuk portofolio asing ke pasar keuangan domestik,” tambahnya.