Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bos BRI Buka Suara Soal Saham BBRI Melemah
Paparan kinerja kuartal I Bank BRI. (Dok/Istimewa).
  • Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menegaskan pelemahan saham BBRI tidak mencerminkan fundamental perusahaan dan meminta investor fokus pada kinerja jangka menengah hingga panjang.
  • Hery menyebut dividend yield BBRI mencapai dua digit dengan return sekitar 10–11 persen per tahun, menunjukkan daya tarik investasi dibandingkan instrumen lain seperti deposito atau reksa dana pasar uang.
  • IHSG turut melemah 1,71 persen ke level 6.979,994 dengan mayoritas saham terkoreksi, mencerminkan tekanan jual yang meluas di pasar saham domestik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI, Hery Gunardi, angkat bicara terkait pelemahan saham BBRI di Bursa Efek Indonesia. Pada perdagangan Kamis (30/4/2026), saham BBRI tercatat turun 1,30 persen.

Hery menegaskan, kondisi tersebut tak mencerminkan fundamental perusahaan. Ia memastikan kinerja bisnis BRI tetap solid, sehingga investor tidak perlu khawatir, khususnya bagi yang berorientasi jangka menengah dan panjang.

Menurutnya, fluktuasi harga saham merupakan hal wajar di pasar modal.

“Anda enggak usah terlalu lihat, karena kita seperti saya juga adalah investor yang jangka menengah dan jangka panjang. Kita enggak usah lihat harga saham naik turun, naik turun itu bikin namanya tekanan darah naik juga begitu kan, stresnya naik," ujarnya dalam konferensi pers virtual, Kamis (30/4/2026).

1. Investor diminta cermati fundamental perusahaan

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (unsplash.com/Mathieu Stern)

Hery menyarankan investor untuk lebih mencermati fundamental perusahaan. Selain itu, ia menyoroti imbal hasil dividen (dividend yield) saham BBRI yang tergolong tinggi, bahkan mencapai dua digit.

Menurut Hery, dengan kinerja laba yang solid, BRI mampu memberikan tingkat pengembalian (return) yang kompetitif dibandingkan instrumen investasi lainnya.

“Walaupun harga saham tadi dikatakan bahwa ada mengalami tekanan di bawah sekitar 15-16 persen, enggak usah dilihat itu, (lihat) dividend ratio-nya dan dividen kita kan cukup bagus ya, jadi paling tidak bisa memberikan antara 10-11 persen return per tahun. Mau cari investasi di mana sebesar itu? Deposito saja mungkin hanya 7 persen. Reksa dana pasar uang mungkin sekitar 5,5-6 persen," katanya.

2. Tekanan saham BBRI dinilai sementara

ilustrasi saham (unsplash.com/Behnam Norouzi)

Hery menilai pelemahan saham lebih dipengaruhi sentimen pasar jangka pendek, bukan faktor fundamental.

Ia optimistis, ketika kondisi makroekonomi membaik, baik global maupun domestik, saham dengan fundamental kuat seperti BBRI akan kembali menguat mengikuti pergerakan indeks.

3. IHSG melemah, tekanan pasar meluas

ilustrasi saham sebagai aset investasi (freepik.com/rawpixel)

Berdasarkan data perdagangan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia ditutup melemah.

Pada pukul 15.11 WIB, IHSG terkoreksi 121,23 poin atau turun 1,71 persen ke level 6.979,994. Sepanjang sesi, indeks bergerak di rentang 6.876,576 hingga 7.109,004 setelah dibuka di level 7.103,256.

Tekanan jual terlihat dominan di pasar. Dari total perdagangan, sebanyak 595 saham melemah, 115 saham menguat, dan 103 saham stagnan.

Volume transaksi mencapai 40,96 miliar saham dengan nilai Rp17,54 triliun dan frekuensi 2,33 juta kali. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp12.424,8 triliun, mencerminkan tekanan yang cukup luas di pasar saham domestik.

Editorial Team