Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
BRI Kantongi Laba Bersih Rp15,5 T di Kuartal I-2026, Tumbuh 13,74 Persen
Paparan kinerja kuartal I Bank BRI. (Dok/Istimewa).
  • BRI mencatat laba bersih Rp15,5 triliun pada kuartal I-2026, tumbuh 13,74 persen dibandingkan tahun sebelumnya berkat peningkatan pendapatan bunga dan efisiensi beban bunga.
  • Total kredit dan pembiayaan mencapai Rp1.497 triliun, didorong oleh penyaluran KUR serta pembiayaan perumahan FLPP, meski rasio NPL bruto naik menjadi 3,31 persen.
  • Dana pihak ketiga BRI tembus Rp1.555 triliun dengan dominasi CASA 68,1 persen; total aset naik ke Rp2.249 triliun menandakan ekspansi kuat namun risiko kredit meningkat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mencatat laba bersih sebesar Rp15,5 triliun pada kuartal I-2026. Capaian ini tumbuh 13,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Hingga akhir kuartal I-2026, kinerja BRI terus menunjukkan hasil positif,” ujar Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, dalam Taklimat Media Kinerja Keuangan BRI Kuartal I-2026 yang digelar secara daring, Kamis (30/4/2026).

1. Total kredit dan pembiayaan sebesar Rp1.497 triliun

Gedung BRI. (Dok. BRI)

Ia menjelaskan, kinerja tersebut ditopang oleh pertumbuhan pendapatan bunga yang mencapai Rp52,83 triliun atau naik 5,94 persen secara tahunan. Sementara itu, beban bunga turun 9,31 persen menjadi Rp12,68 triliun, sehingga memperlebar margin bunga bersih (net interest margin/NIM).

Dari sisi kredit, BRI membukukan total kredit dan pembiayaan sebesar Rp1.497 triliun secara konsolidasi per Maret 2026, tumbuh sekitar 13 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

"Penyaluran ini antara lain ditopang oleh Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp47,09 triliun kepada sekitar 947 ribu nasabah," tegasnya.

2. Pertumbuhan kredit ini dorong pembiayaan bagi pelaku usaha kecil serta sektor perumahan

Ilustrasi cadangan devisa. (IDN Times/Arief Rahmat)

Selain itu, pembiayaan perumahan melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) mencapai Rp17,13 triliun untuk sekitar 125 ribu debitur. Pertumbuhan kredit ini mendorong pembiayaan bagi pelaku usaha kecil serta sektor perumahan yang menjadi fokus utama BRI.

"Akses pembiayaan yang lebih luas membuka peluang ekspansi usaha dan kepemilikan rumah bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah," ungkapnya.

Namun, kualitas kredit mulai tertekan. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) bruto naik menjadi 3,31 persen dari sebelumnya sekitar 3 persen. Sementara itu, NPL net juga meningkat menjadi 1,01 persen, mencerminkan risiko yang meningkat seiring agresivitas penyaluran kredit.

3. BRI himpun DPK Rp1.555 triliun

ilustrasi cadangan devisa (unsplash.com/ Viacheslav Bublyk)

Dari sisi pendanaan, BRI menghimpun dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp1.555 triliun, tumbuh 9,4 persen secara tahunan. Komposisi dana murah (current account saving account/CASA) tercatat mencapai 68,1 persen, menunjukkan dominasi dana berbasis tabungan dan giro yang lebih efisien.

Likuiditas bank tetap terjaga, meskipun rasio pinjaman terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) meningkat menjadi 87,66 persen. Kenaikan ini mencerminkan fungsi intermediasi yang semakin kuat, dengan ruang likuiditas yang relatif lebih terbatas.

"Sementara itu, total aset BRI tercatat mencapai sekitar Rp2.249 triliun secara konsolidasi per Maret 2026, tumbuh lebih dari 7,2 persen dibandingkan tahun lalu," ungkapnya.

Secara keseluruhan, kinerja BRI menunjukkan ekspansi yang tetap agresif di sektor riil, terutama UMKM dan perumahan. Namun, peningkatan risiko kredit menjadi catatan di tengah tekanan ekonomi yang masih menekan kemampuan bayar debitur.

Editorial Team