Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
BRI Klaim Kualitas Kredit Kian Solid, Ini Datanya
PT BRI paparkan kinerja keuangan kuartal I. (Dok/Istimewa).
  • BRI mencatat penurunan rasio NPL menjadi 3,01 persen pada kuartal I-2026 berkat strategi pengelolaan risiko yang lebih disiplin dan penerapan selective growth sepanjang 2025.

  • Rasio LAR turun dari 11,13 persen menjadi 9,67 persen secara tahunan, menandakan peningkatan kualitas kredit baru terutama di segmen ritel yang sebelumnya tertekan.

  • NPL coverage tetap kuat di kisaran hampir 180 persen dan LAR coverage sekitar 55 persen, menunjukkan komitmen BRI menjaga prinsip kehati-hatian serta ketahanan terhadap dinamika ekonomi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) mencatat penurunan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) pada kuartal I-2026 menjadi 3,01 persen, turun dari posisi Desember 2025 sebesar 3,07 persen.

Direktur Manajemen Risiko BRI, Ety Yuniarti menjelaskan, perbaikan rasio tersebut tidak terlepas dari strategi pengelolaan risiko yang lebih disiplin.

Sepanjang 2025, BRI menerapkan strategi pertumbuhan selektif (selective growth), memperketat early warning system khususnya di segmen ritel, serta mengoptimalkan fungsi collection dan recovery.

“Strategi pengelolaan risiko yang dijalankan selama 2025 mulai berjalan efektif,” ujarnya dalam Konferensi Pers Paparan Kinerja BRI, Kamis (30/4/2026).

1. Rasio LAR turun jadi 9,67 persen

Paparan kinerja kuartal I Bank BRI. (Dok/Istimewa).

Selain NPL, indikator risiko yang lebih mencerminkan potensi ke depan, yakni loan at risk (LAR), juga menunjukkan tren penurunan. Rasio LAR turun secara tahunan (year on year/yoy) dari 11,13 persen pada Maret 2025 menjadi 9,67 persen pada Maret 2026, atau menyusut sekitar 150 basis poin.

“Penurunan LAR ini mencerminkan membaiknya kualitas penyaluran kredit baru, terutama di segmen ritel yang sebelumnya menghadapi tekanan,” kata Ety.

2. NPL coverage yang terjaga di kisaran hampir 180 persen

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (unsplash.com/Mathieu Stern)

Di sisi lain, BRI tetap menjaga bantalan risiko dengan rasio pencadangan yang kuat. Hal ini tercermin dari NPL coverage yang terjaga di kisaran hampir 180 persen, sementara LAR coverage berada di level sekitar 55 persen.

Stabilnya kedua rasio coverage tersebut menunjukkan komitmen perseroan dalam menjaga prinsip kehati-hatian (prudent) di tengah ekspansi kredit.

“Konsistensi tren kedua rasio tersebut mencerminkan kedisiplinan dalam menjaga tingkat pencadangan risiko sebagai bagian dari implementasi manajemen risiko yang prudent,” ucapnya.

3. BRI tahan terhadap dinamkma ekonomi

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Dok. IDN Times)

Didukung jaringan yang luas, BRI juga memiliki kemampuan diversifikasi portofolio yang baik sehingga mampu menjaga ketahanan terhadap dinamika ekonomi.

“Kami yakin BRI memiliki daya tahan yang baik dalam menghadapi dinamika kondisi ekonomi,” tuturnya.

Perbaikan kualitas kredit ini sekaligus menegaskan bahwa fokus BRI pada segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tidak hanya mendorong inklusi keuangan, tetapi juga tetap berada dalam koridor risiko yang terkelola dengan baik.

Dengan demikian, segmen UMKM sebagai core business BRI tidak hanya menjadi strategi untuk mendukung inklusi keuangan, tetapi juga fondasi penting dalam menjaga stabilitas dan keberlanjutan kinerja perseroan.

Editorial Team