Meski pemerintah AS merasa yakin, beberapa ahli energi mengingatkan bahwa cadangan minyak AS sudah mendekati batas maksimal. Cadangan minyak dan bahan bakar di dalam negeri terus turun selama empat minggu berturut-turut dan berada di bawah rata-rata. Clayton Seigle, peneliti dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington, memberikan analisisnya.
"Kita terlalu cepat menghabiskan cadangan yang ada. Setelah banyak minyak dikirim ke luar negeri, sisa pasokan kita pasti akan berkurang," kata Seigle, dilansir NDTV Profit.
Jay Singh, Kepala Riset Minyak dan Gas AS di Rystad Energy, juga mengingatkan bahwa AS bisa terkena dampak dari kondisi ini.
"AS memang aman, tetapi tetap bisa terkena dampak masalah energi dunia," kata Singh.
Ia menyebut harga bensin di AS sudah melewati 4,40 dolar AS (Rp77,05 ribu) per galon. Para produsen minyak lokal juga mulai kesulitan memenuhi permintaan ekspor karena ragu untuk membuka pengeboran baru. Kondisi pelabuhan di Gulf Coast turut membatasi jumlah minyak yang bisa dikirim secara rutin ke luar negeri.