Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
China Berlakukan Tarif Tambahan 55 Persen untuk Impor Daging Sapi
Bendera China (unsplash.com/runningchild)

Intinya sih...

  • China menerapkan tarif tambahan 55 persen untuk impor daging sapi dari Brasil, Australia, dan AS mulai 1 Januari 2026.

  • Impor tinggi tekan peternak lokal China di tengah perlambatan ekonomi dan harga daging sapi yang terus menurun.

  • Brasil dan Australia paling terdampak tarif baru China dengan pendapatan ekspor daging sapi Brasil diperkirakan mencapai 18 miliar dolar AS pada 2025.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kementerian Perdagangan China mengumumkan penerapan tarif tambahan sebesar 55 persen untuk impor daging sapi dari Brasil, Australia, dan Amerika Serikat (AS) yang melebihi batas kuota impor tertentu, mulai berlaku pada Kamis (1/1/2026).

Kebijakan ini merupakan langkah pemerintah China untuk melindungi industri daging sapi domestik, yang saat ini tengah menghadapi tekanan akibat kelebihan pasokan dan penurunan harga di pasar dalam negeri. Melalui tarif tambahan tersebut, Beijing berupaya menjaga stabilitas harga pangan lokal serta memberikan perlindungan terhadap peternak dan produsen dalam negeri dari potensi dampak persaingan harga impor yang tidak seimbang.

1. China terapkan tarif tambahan 55 persen untuk impor daging sapi

Kementerian Perdagangan China mengumumkan hasil penyelidikan resmi menunjukkan impor daging sapi segar, beku, bertulang, maupun tanpa tulang telah berdampak negatif terhadap industri peternakan dalam negeri. Sebagai tindak lanjut, pemerintah memberlakukan tarif tambahan sebesar 55 persen untuk impor daging sapi yang melebihi kuota tertentu, berlaku mulai 1 Januari 2026 hingga 31 Desember 2028, dengan kuota tahunan yang meningkat secara bertahap selama periode tersebut.

Untuk tahun pertama penerapan, kuota total impor daging sapi dari negara-negara terkait ditetapkan sebesar 2,7 juta ton. Alokasi kuota tersebut terdiri atas Brasil sebesar 1,1 juta ton, Argentina 550 ribu ton, Australia 200 ribu ton, dan AS 164 ribu ton. Setiap impor yang melampaui batas kuota tahunan akan dikenai tarif tambahan 55 persen sesuai kebijakan perlindungan sementara perdagangan.

Dalam pernyataan resminya, juru bicara Kementerian Perdagangan China menjelaskan, kebijakan ini bersifat sementara dan bertujuan mendukung pemulihan industri domestik, bukan membatasi arus perdagangan daging sapi secara keseluruhan.

“Penerapan langkah perlindungan terhadap impor daging sapi dimaksudkan untuk membantu industri nasional melewati masa sulit, bukan untuk menghambat perdagangan yang berjalan normal,” ujarnya, dilansir Yahoo Finance.

2. Impor tinggi tekan peternak lokal China di tengah perlambatan ekonomi

Harga daging sapi di China terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir, dipicu oleh kelebihan pasokan dan melemahnya permintaan domestik seiring melambatnya pertumbuhan ekonomi. Dalam periode yang sama, impor daging sapi meningkat tajam, menjadikan China sebagai pasar utama bagi eksportir seperti Brasil, Argentina, dan Australia.

Selama 11 bulan pertama tahun 2025, volume impor daging sapi China mencapai 2,59 juta ton, hanya sedikit menurun 0,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Meski penurunan itu relatif kecil, jumlah impor yang besar tetap menimbulkan tekanan ekonomi bagi produsen dan peternak sapi lokal di dalam negeri. Banyak peternak dilaporkan mengalami kerugian operasional akibat harga jual yang terus melemah dan tingginya kompetisi dari produk impor.

Analis senior Beijing Orient Agribusiness Consultants, Hongzhi Xu menilai, sektor peternakan sapi potong di China menghadapi kesenjangan daya saing yang besar dibandingkan pemain utama dunia.

“Peternakan sapi potong di China tidak sekompetitif Brasil dan Argentina, dan kesenjangan itu sulit diperbaiki dalam jangka pendek melalui inovasi teknologi atau reformasi kelembagaan,” ujarnya, dilansir Money Control.

3. Brasil dan Australia paling terdampak tarif baru China

Kebijakan tarif tambahan 55 persen dan pembatasan kuota impor daging sapi diperkirakan akan berdampak signifikan terhadap negara pemasok utama, terutama Brasil dan Australia. Sebagai eksportir daging sapi terbesar ke China, Brasil menghadapi tekanan besar akibat kuota ketat, meskipun pendapatan ekspor daging sapi negara tersebut diperkirakan mencapai 18 miliar dolar AS (Rp300,2 triliun) pada 2025.

Sementara itu, Australia juga terkena suspensi sebagian perjanjian perdagangan bebas (FTA) yang sebelumnya memfasilitasi ekspor daging sapi tanpa hambatan kuota tertentu. Kebijakan baru ini menandai perubahan sikap China terhadap impor daging sapi, dengan tujuan menstabilkan pasar dalam negeri dan melindungi sektor peternakan lokal yang tengah mengalami tekanan akibat kelebihan pasokan dan harga rendah.

Pemerintah China berharap kebijakan tersebut dapat mencegah penurunan populasi sapi betina pembiak, serta memberi waktu bagi perusahaan domestik untuk melakukan penyesuaian produksi dan peningkatan efisiensi. Akibat penerapan tarif ini, impor daging sapi ke China diperkirakan akan menurun pada 2026 dibanding tahun sebelumnya.

Analis industri, Shi, menyatakan, langkah perlindungan sementara ini dirancang untuk menjaga kestabilan volume impor daging sapi sesuai kerangka kuota tarif, sambil secara bertahap mengurangi dampaknya terhadap industri peternakan domestik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team