Pemerintah China memperluas cakupan program tukar tambah barang konsumsi 2026 dengan menyasar sektor utama seperti otomotif, peralatan rumah tangga, serta produk digital berteknologi tinggi. Produk yang termasuk kategori digital meliputi kacamata pintar, perangkat rumah pintar, smartphone, tablet, jam tangan pintar (smartwatch), dan gelang pintar (smartband) dengan harga maksimal 6 ribu yuan (Rp14,3 juta) per unit.
Konsumen yang membeli peralatan rumah tangga hemat energi dan air berhak menerima subsidi sebesar 15 persen dari harga jual setelah diskon, dengan batas maksimal 1.500 yuan (Rp3,5 juta) per unit. Skema ini berlaku untuk enam kategori produk utama, yaitu kulkas, mesin cuci, televisi, pendingin udara, pemanas air, dan komputer.
Pada sektor otomotif, struktur subsidi tetap mempertahankan batas tahun 2025, yakni 8 persen atau maksimal 15 ribu yuan (Rp35,8 juta) untuk kendaraan energi baru, serta 6 persen atau hingga 13 ribu yuan (Rp31 juta) untuk mobil bermesin bensin dengan kapasitas 2 liter atau kurang. Sementara itu, produk digital pintar mendapat subsidi hingga 500 yuan (Rp1,1 juta) per unit guna mendorong adopsi teknologi baru di kalangan konsumen.
Wakil Direktur Kantor Penelitian Makroekonomi State Information Centre, Zou Yunhan, mengatakan bahwa dengan memasukkan produk-produk pintar ke dalam program, pemerintah berupaya mempercepat penerapan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi inovatif dalam kehidupan sehari-hari.
“Melalui kebijakan ini, integrasi AI dan teknologi baru dengan aktivitas masyarakat akan semakin dipercepat,” ujar Zou, dikutip South China Morning Post.