Ilustrasi telur ayam. (dok. Bapanas)
Dampaknya terlihat dalami kehidupan masyarakat, seperti Bu Sari (nama disamarkan), petani dari Kalimantan Tengah, kehilangan salah satu sumber utama penghidupan setelah terjadi perubahan penggunaan lahan di desanya.
Sumber pangan yang sebelumnya dapat diperoleh dari hutan, sungai, dan ladang di sekitarnya kini membutuhkan biaya tambahan untuk dipenuhi.
Dalam kasus lain, seorang petani perempuan yang mengalokasikan 2,5 hektare (ha) lahannya untuk mengikuti program pembukaan lahan pertanian baru justru harus menanggung biaya tambahan demi menyiapkan lahan barunya dan membangun pengairan, belum lagi modal yang tidak sedikit yang harus dikeluarkan di setiap musim tanam yang petani lain mungkin tidak memilikinya.
Temuan itu menunjukkan bahwa perubahan sistem pertanian dapat memunculkan biaya penyesuaian di tingkat petani, termasuk bagi perempuan yang selama ini juga memiliki peran dalam menjaga ketahanan pangan.
Di sisi lain, pendekatan yang mengutamakan pembukaan lahan baru juga menghadapi tantangan dari sisi produktivitas. Studi CIPS (2025) menunjukkan produktivitas padi di area pembukaan lahan baru seperti Food Estate di Kalimantan tengah justru 40-50 persen lebih rendah dibanding rata-rata nasional yang mencapai 5,1–5,2 ton per ha.
“Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan produksi pangan tidak selalu harus dimulai dari membuka lahan baru. Dalam banyak kasus, hasil yang lebih optimal dapat dicapai dengan meningkatkan produktivitas lahan yang sudah ada, melalui dukungan teknologi yang sesuai, perbaikan irigasi, serta pendampingan bagi petani,” ucap Maria.