Kantor PT Pos Indonesia (Persero) di Jakarta Pusat. (IDN Times/Vadhia Lidyana)
Adapun konsolidasi dilakukan demi memperbaiki kinerja BUMN sektor logistik sebab sebagian besar perusahaan belum memiliki model bisnis yang mampu bersaing. Penyebabnya adalah segmentasi bisnis yang tidak jelas, apakah beroperasi pada segmen first mile, middle mile, atau last mile. Ketidakjelasan itu menyebabkan 20 dari 21 BUMN logistik mengalami kerugian.
"Yang lebih ironis lagi, dia sebetulnya hanya menjalankan transaksi dari induknya. Jadi praktis bahwa memang 20 perusahaan ini tidak memiliki bisnis model yang proper dan benar," tutur Dony.
PT Pos Indonesia sendiri dipilih karena jaringan distribusi yang luas, di mana perusahan itu memiliki 4 ribu kantor di seluruh Indonesia. Nantinya, perusahaan-perusahaan yang dikonsolidasi akan dirancang lagi bisnisnya, dan dikelola oleh profesional. Targetnya, upaya itu bisa memberikan nilai tambah dan berdaya saing, baik di tingkat nasional maupun global.
"Ini akan kita konsolidasikan menjadi satu, Danantara logistik company. Tentu perusahaan ini akan kita redesign bisnis modelnya, kemudian kita hire profesional yang memang handal untuk menjalankan perusahaan ini sehingga dia bisa memberikan nilai tambah," ujar Dony.
Di sisi lain, Dony berharap upaya itu bisa menekan biaya logistik di Indonesia yang tinggi.
"Kita ingin logistik cost mampu kita turunkan, karena bagaimanapun Indonesia merupakan salah satu negara dengan logistik cost tertinggi, yang menyebabkan produk kita tidak kompetitif, sehingga kita bilang, BUMN harus berperan di sini, at least untuk menurunkan logistik cost kita," kata Dony.