Danantara Indonesia menegaskan mandat gandanya sebagai pengelola investasi negara yang disampaikan dalam sesi “Danantara: Powering Indonesia’s Future” di Indonesia Pavilion, World Economic Forum (WEF) Davos 2026, Selasa (20/1/2026). (Dok. Danantara)
Al-Arief mengatakan, mandat tersebut dijalankan melalui reformasi tata kelola dan konsolidasi BUMN secara bertahap. Selanjutnya, menempatkan profesionalisme dan disiplin pasar sebagai fondasi utama. Reformasi ini, menurutnya, menuntut keberanian mengambil keputusan strategis yang berorientasi jangka panjang, meski tidak terlihat langsung dalam jangka pendek.
Salah satu contoh reformasi tersebut adalah penghapusan penerimaan tantiem bagi seluruh dewan komisaris BUMN, yang berpotensi menghemat hingga Rp8 triliun–Rp8,3 triliun per tahun. “Reformasi pada prinsipnya adalah tentang menukar kenyamanan jangka pendek dengan kepercayaan pasar jangka panjang,” kata Al-Arief.
Sementara itu, Managing Director Investment Danantara Investment Management, Stefanus Ade Hadiwidjaja, menjelaskan strategi investasi jangka panjang yang terdiversifikasi dan selaras dengan prioritas pembangunan nasional. Dalam forum ini, Danantara memaparkan tiga proyek unggulan: waste-to-energy di 33 kota, pengembangan obat berbasis plasma darah, serta pengembangan Kompleks Haji di Makkah yang berstandar internasional.
“Danantara Indonesia ingin membangun sesuatu yang tahan lama dan memberikan dampak bagi masyarakat. Kami ingin bergerak dengan cepat, tetapi kami tidak terburu-buru. Kami ingin memastikan kami memiliki fondasi yang kuat, terutama dalam mengembangkan sumber daya manusia, tata kelola, dan proses manajemen risiko,” katanya.