Jakarta, IDN Times - Danantara Indonesia melaksanakan peletakan batu pertama atau groundbreaking enam proyek hilirisasi di sektor energi, pertambangan, pertanian, hingga peternakan.
Enam proyek itu antara lain:
1. Fasilitas pengolahan bauksit, alumina, dan alumunium di Mempawah, Kalimantan Barat. Rp104,55 triliun (6,23 miliar dolar AS)
2. Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) 2 di Mempawah, Kalimantan Barat.
3. Pabrik bioethanol Glenmore fase 1 di Banyuwangi, Jawa Timur.
4. Pabrik biorefinery (bioavtur) di Cilacap, Jawa Tengah.
5. Proyek peternakan unggas terintegrasi di Malang, Gorontalo Utara, Lampung Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan Nusa Tenggara Barat (NTB).
6. Pabrik garam di Sampang-Madura, Manyar-Gresik, dan Segoromadu 2-Gresik.
Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani mengatakan, enam proyek memakan biaya investasi hingga 7 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp118,2 triliun (kurs Rp16.887 per dolar AS).
Dia mengatakan, proyek-proyek itu dipastikan akan memberikan imbal hasil untuk perekonomian Indonesia.
“Kami memastikan bahwa program ini tidak hanya memberikan return yang baik, tapi juga dari segi penciptaan lapangan pekerjaan, penciptaan nilai tambah, yang akan memberi dampak positif ke pertumbuhan ekonomi Indonesia,” kata Rosan di Wisma Danantara, Jakarta Selatan.
Adapun proyek-proyek di atas digarap oleh sejumlah BUMN. Misalnya, untuk proyek pengolahan alumunium dan SGAR 2 digarap oleh MIND ID.
Kemudian, proyek pabrik bioethanol Glenmore digarap oleh PT Perkebunan Nusantara (PTPN) dan Pertamina New & Renewable Energy (PNRE). Grup Pertamina juga menggarap proyek pabrik biorefinery di Cilacap.
Adapun proyek peternakan unggas terintegrasi digarap oleh ID FOOD, dan proyek pabrik garam digarap oleh PT Garam.
“Bapak Presiden menekankan percepatan proyek-proyek hilirisasi yang berdampak langsung bagi ekonomi dan masyarakat. Oleh sebab itu kalau kita lihat memang kontribusi dari hilirisasi ini meningkat,” tutur Rosan.
