Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IMG_4046.jpeg
Direktur Utama PT Len Industri (Persero), Joga Dharma Setiawan. (dok. YouTube Komisi VI DPR RI)

Intinya sih...

  • Bisnis produksi senjata hingga amunisi cetak pendapatan Rp14,25 triliun

  • Laba bersih DEFEND ID naik 107 persen

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Holding BUMN industri pertahanan DEFEND ID membukukan pendapatan usaha sebesar Rp20,74 triliun sepanjang 2025.

Berdasarkan data kinerja keuangan praaudit 2025 yang dilaporkan Direktur Utama PT Len Industri (Persero), Joga Dharma Setiawan selaku induk holding, capaian pendapatan usaha itu turun 18,1 persen dibandingkan 2024 atau secara year on year (yoy).

“Hal ini dipengaruhi dampak masih cukup rendahnya tingkat konversi kontrak menjadi pendapatan yang hanya mencapai 18,2 persen dari total kontrak,” kata Joga dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, Rabu (11/2/2026).

1. Bisnis produksi senjata hingga amunisi cetak pendapatan Rp14,25 triliun

Kementerian Pertahanan menyerahkan 700 unit kendaraan operasional Maung produksi Pindad untuk TNI-Polri. (Dokumentasi Kemenhan)

Dari sisi struktur pendapatan, segmen pertahanan (defense) tetap menjadi kontributor utama, sementara pendapatan non-defense mengalami penurunan, sejalan dengan penerlambatan perolehan kontrak sektor komersial atau non-pertahanan.

Joga mengatakan, pendapatan sektor defense didominasi oleh PT PAL, PT Dirgantara Indonesia (PTDI), PT LEN, Pindad, dan PT Dahana.

“Kontribusi pendapatan pertahanan yang signifikan yaitu 68,7 persen dari total pendapatan sebesar Rp14,25 triliun, meliputi produk defense electronics, produk kapal perang, pesawat terbang, senjata dan amunisi, dan rampur,” ujar Joga.

Pada lini nonpertahanan, kontribusinya sebesar Rp6,49 triliun atau 31,27 persen yang ditopang oleh pertumbuhan pada railway signaling, renewable energy, ICT dan navigation system, serta engineering service dan aerostructure.

“Namun, beberapa segmen seperti alat berat, infrastruktur perhubungan, rekaya umum, dan jasa peledakan masih mengalami tekanan,” tutur Joga.

2. Laba bersih DEFEND ID naik 107 persen

Kantor pusat PT Dahana di Kabupaten Subang, Jawa Barat. (instagram.com/ptdahana)

Joga mengatakan, kinerja profitabilitas DEFEND ID menunjukkan perbaikan yang signifikan. Peningkatan kualitas profitabilitas tercermin dari EBITDA margin yang naik dari tahun 2024 menjadi 12,68 persen, didukung oleh efisiensi harga pokok pendapatan (HPP).

Sejalan dengan itu, laba bersih praaudit 2025 mencapai Rp667,6 miliar, meningkat 107,4 persen (yoy), dengan net profit margin membaik menjadi 3,22 persen.

3. DEFEND ID punya utang Rp14,89 triliun

Pesawat CN 235 buatan PT Dirgantara Indonesia, Bandung. (IDN Times/Santi Dewi)

Dari sisi arus kas operasi, total aset dan ekuitas, utang berbunga mencapai Rp14,89 triliun atau mengalami pertumbuhan 6,7 persen dari 2024. Hal itu sehubungan dengan penambahan pinjaman modal kerja proyek berjalan.

Dari sisi rasio, kinerja menunjukkan perbaikan dengan EBITDA meningkat menjadi 0,8 persen, mencerminkan pertumbuhan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan beban bunga. Namun, tingkat leverage masih relatif tinggi, tercermin pada rasio interest bearing debt to EBITDA sebesar 5,66 kali, kemudian debt to equity rasio (DER) sebesar 3,41 kali.

Joga mengatakan, DEFEND ID masih memiliki tantangan ketergantungan utang berbunga dengan rate komersial yang cukup tinggi sehingga secara signifikan mengerus laba.

Dia mengatakan, beban bunga yang harus ditanggung perusahaan mencapai Rp738 miliar per tahun, atau sekitar 3,6 persen terhadap pendapatan.

Editorial Team