ilustrasi cadangan devisa (unsplash.com/ Viacheslav Bublyk)
Denny menyebut surplus neraca perdagangan barang menurun akibat ekspor yang mulai melambat. Pelemahan ekonomi global dan turunnya harga komoditas internasional menjadi faktor utama. Dampaknya, surplus ekspor nonmigas pada kuartal IV 2025 menyempit dibanding kuartal sebelumnya.
"Perkembangan ini terjadi pada produk barang manufaktur lainnya, di antaranya ekspor perhiasan ke Swiss, bijih logam dan sisa-sisa logam ke China serta minyak dan lemak nabati ke India. Sementara itu, impor meningkat terutama dalam bentuk bahan baku untuk industri dan barang modal terutama peralatan telekomunikasi," tuturnya.
Neraca perdagangan jasa mencatat defisit lebih dalam. Penyebabnya pelebaran defisit jasa transportasi serta turunnya surplus jasa perjalanan. Ekspor jasa juga melemah seiring berkurangnya kunjungan wisatawan mancanegara.
Pada sisi Neraca Transaksi Modal dan Finansial (TMF), kuartal IV 2025 justru mencatat surplus 8,3 miliar dolar AS. Angka ini berbalik dari kuartal sebelumnya yang defisit 8,0 miliar dolar AS.
Surplus TMF ditopang investasi langsung yang tetap solid. Kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia dan iklim investasi yang kondusif menjadi penopang utama. Investasi portofolio juga kembali mencatat arus masuk, terutama ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Surat Berharga Negara (SBN) internasional, dan saham. Investasi lainnya turut membukukan surplus.
"Dengan keseluruhan perkembangan tersebut, NPI kuartal IV 2025 membukukan surplus 6,1 miliar dolar AS, setelah pada kuartal lalu mencatat defisit 6,4 miliar dolar AS. Kinerja NPI tersebut ditopang oleh surplus transaksi modal dan finansial," ungkapnya.