Jakarta, IDN Times - Pembiayaan berkelanjutan kerap dibicarakan belakangan ini, mulai dari target transisi hijau hingga pembiayaan baru. Namun, bagi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), tantangan terbesar justru ada pada eksekusinya.
Dari panggung Panel: Capital for Sustainability: Unlocking Sustainable Finance and Growth in Emerging Markets di Indonesia Pavilion, World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos, Selasa (21/01/2026), Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan keberhasilan transisi hijau dan pertumbuhan inklusif di emerging market tak akan pernah tercapai bila jutaan pelaku mikro dan UMKM dibiarkan berada di pinggir sistem keuangan.
“Ketika kita berbicara tentang sustainability di emerging market, persoalannya bukan tentang ambisi, tapi tentang eksekusi,” tutur Hery.
Baginya, narasi sustainable finance tidak boleh berhenti pada produk-produk yang terdengar besar, melainkan harus menjelma menjadi pembiayaan yang benar-benar bekerja untuk perekonomian riil.
Sejak awal paparannya, Hery membawa audiens ke konteks paling mendasar, yakni skala dan mandat BRI. Dengan jangkauan dan basis nasabah yang besar, pendekatan BRI terhadap keberlanjutan menurut Hery bukan sekadar program tambahan, melainkan juga bagian dari DNA.
“Bagi kami, sustainability bukan niche inisiatif, tetapi strategi pasar yang terdiri dari bagaimana kita meminjamkan jutaan pengusaha setiap hari. Ini adalah DNA dari BRI,” kata dia.
Pernyataan itu sekaligus menjadi benang merah utama diskusi, yakni pembiayaan berkelanjutan di emerging market tak bisa semata mengejar proyek-proyek besar yang hanya dapat diakses sebagian kecil pelaku ekonomi. Di Indonesia dan banyak negara emerging, struktur ekonomi digerakkan oleh UMKM, tetapi akses pembiayaannya sering tertinggal.
“Di seluruh emerging market, UMKM menghasilkan lebih dari 19% untuk bisnis. Mereka menciptakan pekerjaan, menjaga perubahan, dan memunculkan komunitas. Namun, mereka selalu hilang dari perbicaraan kesejahteraan global,” ucap Hery.
Karena itu, Hery menolak dikotomi yang memisahkan agenda hijau dari agenda inklusi. Ia menyampaikan, “Tidak ada transisi hijau dan perkembangan inklusif yang berhasil tanpa UMKM dan pelaku usaha mikro yang bergerak bersama.”
