Ilustrasi pertanian (IDN Times/Rochmanudin)
Sementara, founder Neurafarm, Febi Agil Ifdillah mengungkapkan proses membangun bisnis memakan waktu 3 tahun. Neurafarm adalah perusahaan pertanian cerdas dengan misi meningkatkan produktivitas dan efisiensi penggunaan sumber daya di industri pertanian melalui teknologi.
"Jadi, sebenarnya manusia dihadapkan dengan satu problem yang luar biasa di masa depan, di 2050 nanti ada 2 miliar orang tambahan. Artinya, kita harus meningkatkan produktivitas lahan kita. Di satu sisi, lahan kita terus menurun, petani kita juga menurun, lalu populasi selalu meningkat. Artinya, ya, gimana caranya kita meningkatkan produktivitas dengan resource yang lebih sedikit," ujar Febi.
Menurut Febi, teknologi dapat membantu untuk menyelesaikan masalah tersebut. Bersama partner bisnisnya, Lintang, dibuatlah satu produk bernama dr Tania. Aplikasi tersebut bisa membantu petani mengidentifikasi penyakit tanaman hanya melalu gambar. Selain itu, para petani juga bisa berdiskusi dengan para ahli yang bisa membantu proses pertanian sehari-harinya.
"Petani juga bisa lebih efisien dengan kalkulator pupuknya, jadi mereka gak harus mengeluarkan cost lebih tinggi. Ini sudah ada beberapa piloting dari 2019 dan 2020. Hasilnya, kita bisa menurunkan cost untuk chemical hingga 70 persen dan mengurangi kegagalan panen akibat hama hingga 40 persen," tuturnya.