Jakarta, IDN Times - Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai pembentukan Badan Khusus Ekspor Sumber Daya Alam (SDA) bisa efektif menekan praktik under-invoicing dan kebocoran devisa apabila difokuskan sebagai instrumen transparansi.
Menurut dia, praktik under-invoicing atau pelaporan nilai ekspor di bawah harga sebenarnya memang menjadi persoalan karena berdampak pada penerimaan pajak, royalti, pungutan ekspor, akurasi data perdagangan, hingga devisa hasil ekspor (DHE).
Namun, dia menilai efektivitas lembaga khusus ekspor tidak otomatis tercapai hanya melalui sentralisasi kebijakan. Pemerintah perlu membuktikan lebih dulu apakah mekanisme yang sudah ada memang belum cukup kuat untuk menekan kebocoran.
"Pemerintah harus membuktikan bahwa audit transfer pricing, harga referensi, integrasi data bea cukai-pajak-perbankan-pelabuhan, kewajiban DHE, dan pemeriksaan kontrak berbasis risiko tidak cukup kuat," kata dia dalam pernyataan tertulis, dikutip Sabtu (23/5/2026).
