Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen, PIER Ingatkan Sinyal Waspada
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede dalam Media Briefing Economic Outlook 2026. (Dok/Screenshot zoom).
  • Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen yoy pada kuartal I-2026, tertinggi sejak 2022, didorong konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah yang meningkat signifikan.
  • Sektor akomodasi serta makanan dan minuman mencatat lonjakan pertumbuhan hingga 13,14 persen yoy, sementara sektor manufaktur mulai melambat dengan PMI turun ke level kontraksi.
  • PIER mengingatkan kualitas pertumbuhan belum merata karena perlambatan investasi, arus keluar modal asing, dan meningkatnya pekerja informal meski pengangguran terbuka menurun.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mencatat capaian impresif. Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh 5,61 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy), tertinggi sejak kuartal III-2022. Angka ini juga lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kuartal IV-2025 yang sebesar 5,39 persen.

Namun, di balik pertumbuhan tersebut, Permata Institute for Economic Research (PIER) menilai masih ada sejumlah tantangan yang perlu diwaspadai, mulai dari perlambatan manufaktur, tekanan global, hingga kualitas lapangan kerja yang belum sepenuhnya kuat.

Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini masih sangat bergantung pada permintaan domestik.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada awal 2026 masih didukung kuat oleh permintaan domestik, terutama konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah. Namun demikian, dinamika eksternal seperti perang dagang, konflik geopolitik, dan perlambatan ekonomi global tetap perlu dicermati karena dapat mempengaruhi stabilitas dan prospek pertumbuhan ke depan,” tutur Josua dalam media briefing di Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (IDN Times/Aditya Pratama)

1. Konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah jadi mesin utama

PIER mencatat, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,52 persen yoy pada kuartal I-2026. Angka itu naik dibandingkan kuartal sebelumnya yang sebesar 5,11 persen.

Lonjakan konsumsi didorong meningkatnya aktivitas belanja selama Ramadan dan Idul Fitri, ditambah membaiknya keyakinan konsumen serta penjualan ritel pada Maret 2026.

Selain itu, belanja pemerintah juga melonjak signifikan hingga 21,31 persen yoy. Peningkatan ini terjadi karena percepatan realisasi fiskal di awal tahun, termasuk untuk mendukung program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sementara itu, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) masih tumbuh 5,96 persen yoy, meski sedikit melambat dibanding kuartal sebelumnya sebesar 6,12 persen.

2. Sektor hotel dan makanan minuman melesat

Investasi bidang perhotelan yang telah berdiri tahun 2021 di KEK Mandalika (IDN Times/Muhammad Nasir)

Secara sektoral, sektor akomodasi serta makanan dan minuman menjadi yang paling moncer pada kuartal I-2026. Pertumbuhannya mencapai 13,14 persen yoy, naik tajam dari 7,41 persen pada kuartal sebelumnya.

PIER juga mencatat wilayah Bali dan Nusa Tenggara menjadi daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi, yakni 7,93 persen yoy. Hal itu kemudian disusul Sulawesi sebesar 6,95 persen yoy dan Jawa sebesar 5,79 persen yoy.

Namun, sektor manufaktur mulai menunjukkan perlambatan. Industri pengolahan yang menjadi kontributor terbesar PDB hanya tumbuh 5,04 persen yoy, turun dari 5,40 persen pada kuartal sebelumnya. Bahkan pada April 2026, PMI manufaktur turun ke level 49,1 yang menandakan kontraksi.

3. PIER ingatkan kualitas pertumbuhan ekonomi belum merata

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (IDN Times/Aditya Pratama)

Meski pertumbuhan ekonomi terlihat kuat, PIER menilai kualitas pertumbuhan belum sepenuhnya solid. Hal itu terlihat dari perlambatan belanja modal, kehati-hatian perekrutan tenaga kerja, hingga tekanan di pasar keuangan. Investor asing tercatat masih melakukan arus keluar bersih sekitar 1,79 miliar dolar AS dari pasar domestik pada kuartal I-2026.

PIER juga menyoroti meningkatnya risiko informalitas tenaga kerja. Tingkat Pengangguran Terbuka Februari 2026 memang turun menjadi 4,68 persen, tetapi proporsi pekerja formal ikut turun tipis, sementara pekerja paruh waktu meningkat.

“Ke depan, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter tetap penting untuk menjaga keseimbangan antara dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi dan stabilitas makroekonomi, termasuk menjaga stabilitas nilai tukar serta kepercayaan pasar di tengah dinamika global. Pemerintah perlu menjaga daya beli, mempercepat belanja produktif, dan menjaga kredibilitas APBN,” beber Josua.

Dia menambahkan, Bank Indonesia (BI) dan dunia usaha juga perlu menjaga efisiensi serta memastikan likuiditas tetap mengalir ke sektor produktif.

“Dengan sinergi kebijakan tersebut, pertumbuhan ekonomi tidak hanya terlihat kuat dalam angka, tetapi juga lebih terasa nyata dalam investasi, penciptaan pekerjaan formal, dan peningkatan pendapatan masyarakat,” kata Josua.

Editorial Team