ilustrasi ekonomi negara (Freepik.com/chhayalex9999)
Dari sisi eksternal, Fitch memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia akan melebar menjadi sekitar 0,8 persen PDB pada 2026, terutama akibat melemahnya ekspor bersih. Meski demikian, cadangan devisa dinilai masih relatif kuat, dengan kemampuan menutup sekitar lima bulan kebutuhan pembayaran transaksi berjalan.
Namun, sentimen investor disebut masih rapuh, terutama setelah meningkatnya volatilitas pasar domestik dan kekhawatiran terkait tata kelola pasar modal. Kondisi tersebut berpotensi memicu arus keluar modal, menekan nilai tukar rupiah, serta meningkatkan biaya pinjaman pemerintah.
Di tengah berbagai risiko tersebut, Fitch menilai ekonomi Indonesia masih memiliki fondasi yang kuat. Lembaga itu memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tetap stabil di kisaran 5 persen pada 2026–2027, didorong permintaan domestik, peningkatan belanja pemerintah, serta investasi di sektor hilirisasi.
Meski begitu, Fitch menilai target pertumbuhan ekonomi pemerintah sebesar 8 persen pada 2029 akan sulit dicapai tanpa reformasi struktural yang lebih mendalam. Secara keseluruhan, Fitch menegaskan stabilitas kebijakan ekonomi, peningkatan penerimaan negara, serta penguatan tata kelola akan menjadi faktor kunci dalam menentukan arah peringkat kredit Indonesia ke depan.