Ilustrasi harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)
Hingga memasuki minggu ketiga, konflik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda setelah sejumlah negara melaporkan adanya pencegatan drone dan rudal pada Jumat fajar. Kondisi diperparah dengan lumpuhnya Selat Hormuz selama 19 hari, yang secara otomatis menghambat distribusi 20 persen pasokan minyak dunia.
Pihak keamanan senior Iran menegaskan kepada CNN bahwa jalur vital tersebut tidak akan kembali normal seperti sebelum perang. Mereka juga mengulangi ancaman untuk terus mengganggu jalur pelayaran tersebut jika wilayah Iran kembali mendapat serangan.
Berdasarkan situasi tersebut, Goldman Sachs memproyeksikan harga minyak berpotensi terus melonjak. Bank investasi itu memperingatkan harga Brent bahkan bisa melampaui rekor tertinggi sepanjang masa sebesar 147 dolar AS per barel jika gangguan pasokan terus berlanjut.
Dalam skenario terburuk, harga Brent diprediksi bertahan di kisaran 111 dolar AS pada akhir 2027 apabila pasokan lewat selat tetap rendah dalam dua bulan ke depan. Namun, jika aliran minyak mulai pulih secara bertahap pada April mendatang, harga kemungkinan bisa turun ke level 70 dolar AS pada kuartal keempat 2026.
Di sisi lain, QatarEnergy melaporkan serangan rudal telah memangkas kapasitas ekspor gas alam cair mereka hingga 17 persen. Proses pemulihan fasilitas tersebut diperkirakan membutuhkan waktu hingga lima tahun, yang dipastikan akan mengguncang stabilitas pasokan energi di pasar Eropa dan Asia.