Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Goldman Sachs Prediksi Harga Minyak Tinggi Bisa Bertahan Hingga 2027
Ilustrasi kenaikan harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)
  • Goldman Sachs memprediksi harga minyak bisa bertahan di atas 100 dolar AS per barel hingga 2027 akibat gangguan pasokan dan konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
  • Penutupan Selat Hormuz selama hampir tiga minggu menghambat distribusi 20 persen pasokan minyak dunia, memperparah krisis energi global dan menekan stabilitas pasar Eropa serta Asia.
  • Pemerintahan Trump berupaya menekan lonjakan harga energi dengan melepas cadangan minyak strategis dan meminta dukungan sekutu untuk membuka kembali jalur vital perdagangan minyak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Harga minyak mentah dunia diprediksi terus bertengger di level tinggi hingga 2027. Analis Goldman Sachs memperingatkan risiko harga di atas 100 dolar AS per barel tetap terbuka lebar.

Hal tersebut bisa terjadi terutama jika gangguan pasokan besar dan hilangnya produksi di Timur Tengah terus berlanjut dalam jangka panjang. Kondisi diperparah oleh rusaknya infrastruktur energi serta penutupan sebagian Selat Hormuz yang telah berlangsung selama hampir tiga minggu.

“Bertahannya sejumlah guncangan besar pasokan sebelumnya menunjukkan adanya risiko bahwa harga minyak bisa tetap berada di atas US$100 lebih lama,” tulis analis Goldman, dilansir CNN, Senin (23/3/2026).

1. Respons Trump dan fluktuasi harga Brent di pasar global

Ilustrasi kenaikan harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)

​Presiden AS Donald Trump kini berupaya menggenjot kembali produksi minyak domestik di AS. Analis Deutsche Bank pada Jumat menyebutkan posisi AS sebagai produsen minyak terbesar dunia memberikan perlindungan dari dampak konflik Iran, meski belum sepenuhnya kebal dari gangguan pasar.

​Di sisi lain, harga minyak Brent mengalami pergerakan fluktuatif setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan kesediaannya mengikuti saran Presiden Trump untuk tidak menyerang kembali fasilitas energi utama Iran.

Sebelumnya, serangan Israel ke ladang South Pars Iran memicu aksi balasan terhadap fasilitas gas alam cair terbesar dunia di Ras Laffan, Qatar, yang menyebabkan harga minyak melonjak tajam awal pekan ini.

​Trump juga berusaha meredam kekhawatiran publik AS terkait tingginya harga bensin yang mencapai rekor dalam dua setengah tahun terakhir. Dia mengeklaim situasi sulit ini akan segera berakhir dan berpendapat bahwa kondisi harga bisa jauh lebih parah jika perang terhadap Iran tidak diantisipasi sebelumnya.

​Berdasarkan data AAA pada Jumat, harga bensin reguler di AS naik lagi menjadi rata-rata 3,91 dolar AS per galon. Angka tersebut menjadi rata-rata harga tertinggi bagi konsumen Amerika Serikat sejak Oktober 2022.

2. Penutupan Selat Hormuz dan ancaman krisis energi jangka panjang

Ilustrasi harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)

​Hingga memasuki minggu ketiga, konflik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda setelah sejumlah negara melaporkan adanya pencegatan drone dan rudal pada Jumat fajar. Kondisi diperparah dengan lumpuhnya Selat Hormuz selama 19 hari, yang secara otomatis menghambat distribusi 20 persen pasokan minyak dunia.

​Pihak keamanan senior Iran menegaskan kepada CNN bahwa jalur vital tersebut tidak akan kembali normal seperti sebelum perang. Mereka juga mengulangi ancaman untuk terus mengganggu jalur pelayaran tersebut jika wilayah Iran kembali mendapat serangan.

​Berdasarkan situasi tersebut, Goldman Sachs memproyeksikan harga minyak berpotensi terus melonjak. Bank investasi itu memperingatkan harga Brent bahkan bisa melampaui rekor tertinggi sepanjang masa sebesar 147 dolar AS per barel jika gangguan pasokan terus berlanjut.

​Dalam skenario terburuk, harga Brent diprediksi bertahan di kisaran 111 dolar AS pada akhir 2027 apabila pasokan lewat selat tetap rendah dalam dua bulan ke depan. Namun, jika aliran minyak mulai pulih secara bertahap pada April mendatang, harga kemungkinan bisa turun ke level 70 dolar AS pada kuartal keempat 2026.

​Di sisi lain, QatarEnergy melaporkan serangan rudal telah memangkas kapasitas ekspor gas alam cair mereka hingga 17 persen. Proses pemulihan fasilitas tersebut diperkirakan membutuhkan waktu hingga lima tahun, yang dipastikan akan mengguncang stabilitas pasokan energi di pasar Eropa dan Asia.

3. Tekanan global untuk stabilitas harga energi

Ilustrasi harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)

​Pemerintahan Trump kini tengah menjajaki berbagai opsi guna menekan kenaikan harga bensin yang kian melonjak. Menteri Keuangan Scott Bessent sempat mengusulkan pencabutan sanksi atas minyak Iran yang sedang berada di laut demi menambah pasokan pasar, meski langkah itu berisiko memperkuat pendanaan perang pihak lawan.

​Di sisi lain, seorang pejabat mengatakan kepada CNN, Gedung Putih hingga saat ini tetap menolak opsi pelarangan ekspor minyak mentah dan gas domestik untuk meredakan gejolak energi.

Sebagai gantinya, Amerika Serikat berkomitmen melepas lebih dari 172 juta barel minyak dari cadangannya, sebagai bagian dari pelepasan darurat yang disepakati oleh 32 negara anggota International Energy Agency (IEA).

​Selain langkah ekonomi, Presiden Trump juga secara terbuka meminta bantuan sekutu untuk membuka kembali Selat Hormuz. Inggris dilaporkan telah mengirimkan perencana militer guna menyusun rencana kolektif bersama AS. Namun, sejumlah mitra strategis lainnya menyatakan keberatan untuk mengirimkan aset militer ke wilayah konflik tersebut di tengah situasi yang masih memanas.

Editorial Team