Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)
Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)

Intinya sih...

  • Analis Goldman Sachs memperkirakan pasar masih di bawah tekanan, dengan potensi arus keluar dana hingga 7,8 miliar dolar AS dalam skenario ekstrem.

  • Peringatan MSCI menjadi kemunduran bagi perekonomian Indonesia, dengan arus keluar dana asing yang persisten dan pelemahan nilai tukar.

  • Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan reaksi pasar terlalu berlebihan terhadap pengumuman MSCI, karena masih ada waktu hingga Mei untuk memenuhi persyaratan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Goldman Sachs menurunkan peringkat saham Indonesia pada Kamis (29/1/2026). Lembaga keuangan global tersebut menyebut potensi arus keluar dana hingga miliaran dolar AS dapat terjadi.

Hal itu dapat terjadi setelah MSCI menyoroti transparansi dan memperingatkan kemungkinan Indonesia diturunkan statusnya menjadi pasar frontier. Pernyataan MSCI serta keputusannya untuk membekukan pembaruan terhadap sekuritas Indonesia berdampak langsung ke pasar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat anjlok 7,4 persen pada perdagangan Rabu (28/1/2026).

1. Potensi arus keluar dana dari Indonesia

Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)

Analis Goldman Sachs menyampaikan pasar diperkirakan masih berada di bawah tekanan. Kondisi saat ini juga belum dipandang sebagai titik masuk, seiring penurunan peringkat saham Indonesia menjadi underweight dari sebelumnya market weight.

"Kami memperkirakan pasar akan tetap berada di bawah tekanan dan tidak memandang kondisi ini sebagai titik masuk," ujar para analis Goldman Sachs dilansir Business Times.

Dalam catatan riset terpisah, analis Goldman Sachs memperkirakan arus keluar dana pasif sekitar 2,2 miliar dolar AS. Perkiraan tersebut didasarkan pada pengurangan free float dan dinilai masih tergolong relatif ringan.

Namun, dalam skenario ekstrem berupa penurunan penuh ke status pasar frontier yang dinilai kecil kemungkinannya, potensi arus keluar dana disebut dapat mencapai 7,8 miliar dolar AS.

2. Tekanan eksternal masih berlanjut

ilustrasi IHSG (IDN Times/Muhammad Surya)

Peringatan dari MSCI dianggap menjadi kemunduran terbaru bagi perekonomian. Saat ini, Indonesia masih menghadapi arus keluar dana asing yang persisten, pelemahan nilai tukar, serta kekhawatiran investor terkait pelebaran defisit fiskal dan independensi bank sentral.

Data LSEG menunjukkan investor asing mencatatkan penjualan bersih saham Indonesia senilai Rp13,96 triliun sepanjang 2025. Angka tersebut menjadi yang terburuk sejak 2020, dengan aksi jual yang masih berlanjut pada Januari.

Spesialis portofolio T Rowe Price di Singapura, Rahul Ghosh menyampaikan peringatan dari MSCI dan langkah lanjutan ke depan berpotensi memberi dampak negatif yang lebih luas. Dampak tersebut dapat muncul jika proses penghimpunan modal menjadi lebih sulit atau lebih mahal akibat meningkatnya premi risiko.

3. Purbaya menilai reaksi pasar berlebihan

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa saat melantik 27 pejabat eselon II di lingkungan Kemenkeu (dok. Kemenkeu)

Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, menilai reaksi pasar terlalu berlebihan dalam menyikapi pengumuman MSCI terkait pasar saham Indonesia. Reaksi pasar berujung pada anjloknya IHSG. Padahal, laporan MSCI tersebut baru tahap awal dan masih ada waktu hingga Mei untuk memenuhi seluruh persyaratan yang diminta.

"Ini saya pikir reaksi yang berlebihan karena kan ini baru laporan pertama kan? Masih ada waktu eksekusi sampai Mei kan," katanya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (28/1/2026).

Editorial Team