Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi logo google (unsplash.com/Pawel Czerwinski)
Ilustrasi logo google (unsplash.com/Pawel Czerwinski)

Intinya sih...

  • Gugatan tuding Google Assistant merekam percakapan pribadi tanpa izin pengguna.

  • Google ajukan penyelesaian awal kasus privasi tanpa akui kesalahan.

  • Google hadapi isu privasi AI di tengah transisi dari Assistant ke Gemini.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Perusahaan teknologi Google menyetujui pembayaran sebesar 68 juta dolar AS (Rp1,1 triliun) untuk menyelesaikan gugatan class action terkait dugaan pelanggaran privasi pada layanan Google Assistant. Dokumen penyelesaian awal kasus tersebut diajukan pada Jumat malam (23/1/2025) di pengadilan federal San Jose, California, dan saat ini menunggu proses persetujuan dari pihak pengadilan.

Kesepakatan ini menandai langkah hukum terbaru Google untuk menyelesaikan sengketa mengenai penggunaan serta penyimpanan data suara pengguna yang diklaim dikumpulkan tanpa izin. Nantinya, dana penyelesaian akan dialokasikan kepada pihak penggugat yang memenuhi ketentuan dalam perjanjian gugatan bersama.

1. Gugatan tuding Google Assistant rekam percakapan pribadi tanpa izin pengguna

ilustrasi logo Google (unsplash.com/Adarsh Chauhan)

Gugatan terhadap Google menuduh layanan Google Assistant secara tidak sengaja merekam percakapan pribadi pengguna tanpa persetujuan. Hal ini terjadi ketika perangkat salah mengenali kata pemicu seperti “Hey Google” atau “Okay Google”, dalam fenomena yang dikenal sebagai false accepts, yaitu kondisi di mana asisten suara aktif secara otomatis dan menyimpan rekaman meski tidak diminta.

Menurut dokumen pengadilan, rekaman tersebut diduga tetap disimpan untuk tujuan pelatihan sistem kecerdasan buatan bahkan setelah Google menentukan tidak ada perintah yang sah. Lebih lanjut, sebagian rekaman disebut dibagikan kepada pihak ketiga untuk kebutuhan iklan berbasis perilaku, yang dianggap melanggar hukum privasi negara bagian California.

Sejumlah pengguna melaporkan menerima iklan bertema keuangan atau keputusan pribadi yang mereka yakini terkait dengan percakapan yang terekam tanpa izin. Kasus ini mencakup berbagai perangkat Google yang terhubung dengan layanan asisten suara sejak 18 Mei 2016, termasuk ponsel pintar, speaker rumah, laptop, tablet, Chromecast, serta earphone nirkabel.

2. Google ajukan penyelesaian awal kasus privasi tanpa akui kesalahan

ilustrasi logo Google (unsplash.com/BoliviaInteligente)

Penyelesaian awal gugatan privasi Google Assistant diajukan ke Pengadilan Distrik AS di San Jose, California, dan saat ini menunggu persetujuan dari Hakim Beth Labson Freeman. Dalam kesepakatan tersebut, Google tidak mengakui adanya pelanggaran, namun sepakat membayar kompensasi guna menghindari risiko, biaya, serta ketidakpastian proses hukum yang telah berlangsung selama hampir enam tahun.

Berdasarkan dokumen pengadilan, pengacara penggugat dapat mengajukan permohonan hingga sepertiga dari total dana penyelesaian, yakni sekitar 22,7 juta dolar AS (Rp380,5 miliar), untuk menutupi biaya hukum. Sementara itu, sisanya akan dialokasikan bagi konsumen yang mengajukan klaim, dengan batas hingga tiga perangkat Google per individu.

Google menegaskan penyelesaian ini semata dilakukan demi efisiensi dan bukan sebagai pengakuan kesalahan. Proses ini disebut serupa dengan penyelesaian senilai 95 juta dolar AS (Rp1,5 triliun) yang dilakukan Apple pada Desember 2024 untuk menyelesaikan gugatan privasi terkait layanan Siri.

3. Google hadapi isu privasi AI di tengah transisi dari Assistant ke Gemini

Logo Google (IDN Times/Pitoko)

Pengguna yang terdampak dalam kasus gugatan privasi Google Assistant akan menerima bagian dari dana penyelesaian setelah dikurangi biaya hukum, dengan jumlah kompensasi bergantung pada total klaim yang diajukan. Google, yang merupakan anak perusahaan Alphabet Inc., hingga kini belum memberikan komentar resmi terkait kesepakatan tersebut.

Kasus ini muncul di tengah transisi Google dari layanan Google Assistant menuju sistem kecerdasan buatan baru bernama Gemini. Namun, isu mengenai privasi data dan rekaman percakapan sensitif masih menjadi perhatian utama publik dan regulator.

Penyelesaian ini diharapkan memberikan kompensasi yang adil bagi para penggugat di seluruh AS, sekaligus menjadi peringatan bagi perusahaan teknologi lain untuk memperkuat perlindungan privasi pengguna dalam pengembangan produk berbasis kecerdasan buatan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team