Hakim Distrik Royce C. Lamberth memberikan instruksi khusus dalam putusannya yang mewajibkan Badan Media Global AS (USAGM) untuk segera memanggil kembali lebih dari 1.000 karyawan VOA. Para staf ini diminta untuk kembali bekerja paling lambat pada Senin (23/3/2026). Perintah ini secara resmi membatalkan kebijakan internal sebelumnya yang sempat memangkas jumlah staf secara drastis, dari 1.147 karyawan tetap menjadi hanya 68 orang saja.
Menurut penilaian hakim, pengurangan besar-besaran tersebut telah melumpuhkan kemampuan lembaga dalam menyediakan informasi di wilayah penting seperti Iran, Rusia, dan China. Lamberth menegaskan, tindakan merumahkan karyawan secara massal ini melanggar hukum federal karena pemerintah tidak memberikan alasan yang masuk akal atau analisis mendalam mengenai dampak penghentian siaran terhadap diplomasi publik nasional.
Direktur VOA, Michael Abramowitz, menyatakan rasa syukurnya atas putusan pengadilan ini. Ia menganggap hasil tersebut sebagai kemenangan bagi kemandirian redaksi dan kejujuran jurnalisme publik di AS.
"Saat ini VOA sangat dibutuhkan. Saya berterima kasih atas kesabaran dan kerja keras seluruh tim kami yang luar biasa selama masa sulit ini," kata Abramowitz dalam pernyataan resminya, dilansir The Guardian.
Abramowitz menekankan, kehadiran VOA sangat penting sebagai penyeimbang informasi di tengah maraknya propaganda dunia. Dalam catatan sejarahnya, VOA didirikan pada masa Perang Dunia II untuk melawan propaganda Nazi dan terus beroperasi dalam berbagai bahasa asing guna memberikan fakta yang jujur bagi masyarakat internasional. Oleh karena itu, upaya penutupan paksa yang terjadi selama setahun terakhir dianggap sebagai penyimpangan besar dari misi utama lembaga tersebut.