Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
7 Hal yang Harus Dipersiapkan Sebelum Memutuskan Pensiun
Ilustrasi uang (IDN Times/Mardya Shakti)

Intinya sih...

  • Rencanakan waktu pensiun sesuai kebutuhan dan rencanamu

  • Lunasi seluruh utang sebelum pensiun untuk kestabilan finansial

  • Hitung kembali kebutuhan dana bulanan saat pensiun dengan data terkini

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Meski belum memutuskan untuk pensiun dalam waktu dekat, ada baiknya kamu mengetahui beberapa hal yang harus dipersiapkan menjelang masa pensiun.

Agar rencana pensiun kamu lancar dan masa pensiun lebih tenang dan bahagia, Jenius membagikan apa saja yang perlu disiapkan. Simak selengkapnya!

1. Rencanakan waktu pensiun

Ilustrasi jam (IDN Times/Arief Rahmat)

Jenius menjelaskan ada dua jenis pensiun yang banyak dikenal. Pertama, pensiun normal apabila seseorang mencapai usia tertentu. Kedua, pensiun yang dipilih sendiri, biasanya lebih dini daripada usia yang ditetapkan.

Jadi, rencanakanlah waktu pensiun sesuai dengan keinginan dan kebutuhanmu. Kemudian, tentukan apa saja rencanamu untuk pensiun, yakni merencanakan akan tinggal di mana, berkegiatan apa, dan lainnya.

Imajinasikan kehidupan pensiun yang ingin kamu jalani. Nantinya, hal ini akan menjadi langkah pertama dari proses pensiun dan dasar pertimbangan untuk keputusan-keputusan besar yang perlu diambil.

2. Lunasi seluruh utang

Ilustrasi Utang (IDN Times/Mardya Shakti)

Salah satu financial checklist untuk kamu yang berusia 40 tahunan adalah atur rencana melunasi seluruh utang. Apabila kamu sudah akan pensiun, bukan hanya rencana yang dibutuhkan, tapi melunasi seluruh utang.

Semakin dekat waktu pensiun, kamu sudah harus memastikan bahwa semua utang-utangmu sudah lunas dan tidak akan mengganggu masa pensiunmu.

3. Hitung kembali dan revisi kebutuhan dana bulanan saat pensiun dengan data terkini

Ilustrasi Anggaran. (IDN Times/Aditya Pratama)

Idealnya, dana pensiun sudah mulai disusun portofolionya sejak kamu memiliki penghasilan. Perhitungan dulu saat mulai berinvestasi dan merevisi secara berkala pasti berbeda dengan kondisi terkini menjelang pensiun.

Hitunglah apakah dana pensiun yang kamu butuhkan sudah sesuai dengan dana yang sudah tersedia?

Pada saat yang sama, kamu juga bisa mulai membuat budgeting atau estimasi pengeluaran yang dibutuhkan selama mulai pensiun nanti. Apa saja kebutuhan bulanan yang diperlukan setelah pensiun? Apa saja biaya yang sudah tidak perlu diperhitungkan ketika sudah tidak bekerja? Perhitungan tambahan khusus untuk kamu yang berencana tinggal di panti werdha, berapa iuran bulanan atau tahunan yang perlu disetorkan?

Diskusikanlah topik tersebut dengan pasangan karena budget pensiun harus diperhatikan dengan saksama mengingat sumber penghasilan utama yang sudah tidak ada. Bila diperlukan, sesuaikan atau downgrade gaya hidup untuk menjaga kestabilan cash flow saat pensiun.

4. Pindahkan dana pensiun ke instrumen yang lebih rendah risiko

Ilustrasi harta kekayaan (IDN Times/Sukma Shakti)

Beberapa tahun menjelang pensiun, ada baiknya kamu mulai memindahkan sebagian dana pensiunmu ke instrumen yang lebih minim risiko. Realisasikanlah keuntungan apabila investasi tersebut sudah mencapai target yang kamu tentukan.

Jika karakter portofoliomu cukup agresif 5 hingga 10 tahun sebelum memasuki masa pensiun, kamu bisa mempertimbangkan untuk menyesuaikan portofolio dana pensiun menjadi lebih moderat atau bahkan konservatif.

Semakin besar instrumen berisiko tinggi di portofoliomu, semakin tinggi kemungkinan fluktuasi nilai yang terjadi. Jadi, timing untuk keluar dan memindahkan dana pensiun tersebut ke instrumen yang lebih rendah risiko menjadi penting.

5. Cek seluruh saldo program dana pensiun yang kamu ikuti

ilustrasi rekening (IDN Times/Aditya Pratama)

Sebagai karyawan, biasanya ada benefit berupa tunjangan dana pensiun yang diberikan oleh perusahaan/pemberi kerja. Ada perusahaan yang mengikutsertakan karyawannya dalam program dana pensiun lembaga keuangan (DPLK) yang dikelola bank atau perusahaan asuransi.

Ada juga perusahaan yang membentuk dana pensiun sendiri bagi seluruh karyawannya, yakni Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK). Selain itu, ada juga Jaminan Hari Tua (JHT) yang dikelola BPJS Ketenagakerjaan.

Menjelang masa pensiun, cek seluruh saldo dalam berbagai program dana pensiun yang kamu ikuti. Pastikan tidak ada program yang terlupakan, apalagi buat kamu yang pernah pindah kerja beberapa kali selama berkarier. Setelah itu, kamu bisa membuat strategi, di mana seluruh dana tersebut akan ditempatkan saat sudah cair/diklaim nanti.

Kamu dapat memilih instrumen berisiko rendah yang cocok untuk pensiunan, seperti deposito (Maxi Saver dari Jenius) atau obligasi pemerintah. Nantinya, bunga atau kupon bulanan dari investasi tersebut bisa kamu gunakan untuk membiayai kehidupanmu saat pensiun.

6. Rencanakan pengelolaan dana pensiun

Ilustrasi neraca perdagangan. (IDN Times/Mardya Shakti)

Dana pensiun adalah sebuah dana yang tak akan selesai diurus. Sebelum pensiun, kamu perlu menghitung dan mengumpulkannya sesuai kebutuhan. Lalu setelah pensiun, perlu direncanakan juga bagaimana pengelolaannya.

Biasanya, dana pensiun dikumpulkan dari berbagai macam instrumen keuangan dan investasi. Pertanyaan, saat semuanya dapat dicairkan pada saat yang bersamaan, di manakah kamu akan menempatkan dana besar tersebut? Bagaimana mengelola uang yang akan kamu butuhkan selama sisa hidup?

Oleh karenanya, sebelum benar-benar pensiun, ada baiknya kamu meriset dan merencanakan pengelolaan dana pensiun. Bila merasa perlu, kamu juga bisa mengonsultasikan hal tersebut dengan perencana keuangan independen.

Pengelolaan dana pensiun sangat penting agar dana pensiun yang sudah kamu kumpulkan selama puluhan tahun dapat kamu nikmati secara optimal di hari tua.

Waspadai tawaran investasi bodong dan berbagai proposal bisnis yang terlihat menjanjikan. Ada banyak pelaku kejahatan dengan modus dana pensiun yang selalu siap memangsa para pensiunan dengan iming-iming imbal hasil investasi tinggi.

7. Ajukan status non-efektif (NE) wajib pajak

Ilustrasi Pajak (IDN Times/Arief Rahmat) (2020)

Bila kamu tidak ada rencana berbisnis atau melakukan pekerjaan lepas lain setelah pensiun, jangan lupa mengajukan status non-efektif (NE) begitu resmi pensiun.

Dengan begitu, setelah pelaporan SPT Tahunan atas penghasilan terakhir yang kamu terima, kamu tidak perlu lagi melapor pada tahun berikutnya asal status NE sudah ditetapkan.

FAQ seputar Hal yang Harus Dipersiapkan Sebelum Memutuskan Pensiun

Apa hal pertama yang harus dilakukan sebelum pensiun?

Hal utama adalah menentukan waktu pensiun dan menghitung kebutuhan dana yang dibutuhkan setelah pensiun, sehingga rencana finansialmu lebih realistis.

Mengapa penting menentukan kebutuhan belanja saat pensiun?

Karena pola pengeluaran setelah pensiun bisa berbeda dengan saat bekerja, terutama biaya kesehatan dan kebutuhan hidup harian, sehingga harus dihitung rinci agar dana cukup.

Apa yang harus dilakukan dengan utang sebelum pensiun?

Sebelum pensiun, usahakan melunasi utang atau meminimalkan kewajiban finansial, supaya dana pensiun tidak tergerus hanya untuk membayar bunga atau cicilan.

Seberapa penting menjaga kesehatan sebelum pensiun?

Sangat penting. Kesehatan yang prima membantu menjaga kualitas hidup, dan meminimalkan biaya medis yang bisa semakin besar seiring bertambahnya usia.

Bagaimana mempersiapkan pengeluaran tak terduga sebelum pensiun?

Kamu perlu menyisihkan dana cadangan untuk kejadian tak terduga, seperti perbaikan rumah, penyakit mendadak, atau kebutuhan lain yang tidak terencana.

Editorial Team