Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Harga Minyak Dunia Berpotensi Sentuh 116 Dolar AS Pekan Depan
Ilustrasi kenaikan harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)
  • Ibrahim Assuaibi memprediksi harga minyak mentah dunia akan bergejolak, dengan brent crude oil berpotensi menembus 110–116 dolar AS pekan depan.
  • Kenaikan tajam harga brent dipicu ketegangan di Iran dan Irak, berdampak pada lonjakan biaya avtur serta inflasi sektor penerbangan.
  • Konflik Timur Tengah dan serangan terhadap infrastruktur energi di Iran, Israel, serta Ukraina mengancam pasokan global dan mendorong kenaikan harga minyak serta gas alam.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan pergerakan harga minyak mentah dunia akan mengalami gejolak signifikan pada pekan depan.

Dia memperkirakan minyak mentah jenis crude oil akan bergerak di level support 93,300 dan berpotensi menembus level resistance hingga 107,100 dolar AS. Kenaikan paling tajam diprediksi terjadi pada jenis minyak brent.

"Ini yang menarik itu adalah brent crude oil. Brent crude oil kemungkinan besar ditransaksikan itu adalah di 110 sampai 116. Jadi yang terlihat penguatannya cukup tajam itu adalah brent crude oil," kata Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (22/3/2026).

1. Kenaikan harga minyak brent picu inflasi sektor penerbangan

Ilustrasi kenaikan harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)

Lonjakan harga minyak brent dipicu oleh ketegangan di negara-negara produsen seperti Iran dan Irak. Mengingat brent merupakan bahan baku utama avtur, kenaikan harga berdampak langsung pada biaya transportasi penerbangan yang melonjak tajam.

"Karena yang kelihatan kenaikannya cukup tajam bukan crude oil tapi brent crude oil yang berdampak terhadap apa? Terhadap transportasi penerbangan yang mengalami kenaikan yang cukup tajam, ya, sehingga berdampak terhadap inflas," ujarnya Ibrahim.

Situasi tersebut juga membuat daya tarik emas sedikit meredup dan menyebabkan harganya tergelincir, lantaran para investor mulai mengalihkan modal mereka ke dolar AS sebagai aset safe haven utama saat ini.

2. Konflik Timur Tengah memanas sebabkan jalur negosiasi terputus

ilustrasi Iran vs Israel (IDN Times/Besse Fadhilah)

Faktor lain yang memperkeruh suasana adalah perang yang berkepanjangan antara Israel-Amerika Serikat melawan Iran. Ibrahim menyoroti tewasnya sejumlah pemimpin tinggi Iran akibat serangan rudal.

"Sehingga apa? Tidak ada terjadi negosiasi karena kepala-kepala pimpinannya di Iran itu semuanya adalah tewas terkena serangan dari Israel dan Amerika Serikat," tuturnya.

Di sisi lain, Iran terus melancarkan serangan jarak jauh terhadap fasilitas-fasilitas milik Israel dan AS di Timur Tengah. Bahkan, serangan tersebut dilaporkan mulai menyasar pulau-pulau terluar hingga kapal induk milik AS yang berada di kawasan konflik.

3. Pasokan energi global terancam akibat serangan infrastruktur

Ilustrasi harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)

Tidak hanya minyak, krisis energi juga merembet ke sektor gas alam. Ibrahim menyoroti aksi Iran yang menargetkan infrastruktur minyak dan gas di Timur Tengah, serta serangan Rusia terhadap fasilitas gas di wilayah Ukraina.

"Kemungkinan besar harga minyak, gas alam, ini akan terus mengalami kenaikan secara permanen yang kemungkinan besar akan cukup lama kenaikannya," paparnya.

Editorial Team