Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Harga Produk Unilever Bakal Naik Bertahap akibat Konflik Timur Tengah
Unilever (commons.m.wikimedia.org/Exploringlife)
  • Unilever akan menaikkan harga produknya secara bertahap karena lonjakan biaya produksi dan pengiriman akibat konflik di Timur Tengah yang memengaruhi harga minyak dan bahan baku utama.
  • Kenaikan harga dilakukan hati-hati pada produk tertentu, terutama perawatan rumah tangga, agar tetap kompetitif di pasar global meski ruang gerak terbatas di negara maju Eropa.
  • Penjualan kuartal pertama Unilever tumbuh 3,8 persen, melampaui perkiraan analis berkat performa kuat merek Dove, Axe, dan Dermalogica meski pendapatan total turun akibat pelemahan mata uang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Unilever mengumumkan rencana untuk menaikkan harga berbagai produknya secara bertahap. Langkah ini terpaksa diambil oleh perusahaan untuk menyesuaikan tingginya biaya produksi dan pengiriman barang akibat konflik yang terjadi di Timur Tengah.

Keputusan tersebut tetap dijalankan meskipun produsen sabun Dove dan deodoran Axe ini mencetak hasil yang menggembirakan di awal tahun. Catatan penjualan Unilever pada kuartal pertama tahun ini terbukti masih kuat dan bahkan berhasil melewati perkiraan pasar.

1. Biaya produksi naik karena konflik di Timur Tengah

Selat Hormuz (Wikipedia.com)

Unilever memperkirakan total kenaikan biaya tahun ini mencapai 750 juta hingga 900 juta euro (Rp15,28 triliun-Rp18,34 triliun). Biaya ini meliputi ongkos pengiriman dan operasional pabrik. Kepala Keuangan Unilever, Srinivas Phatak, menyatakan bahwa angka tersebut lebih tinggi sekitar 350 juta hingga 500 juta euro (Rp7,13 triliun-Rp10,19 triliun) dari perkiraan pada awal tahun.

"Kami akan sering menaikkan harga, tetapi dalam jumlah yang kecil," ujar Phatak, dilansir UOL Economia.

Phatak menambahkan, jika kenaikan biaya terus terjadi, Unilever bisa menaikkan harga barang hingga 2 sampai 3 persen. Kenaikan tertinggi akan terjadi di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Sementara itu, Amerika Utara tidak terlalu terdampak karena ukuran bisnis perawatan rumah (home care) di sana lebih kecil.

Konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran telah mengganggu jalur pengiriman di Selat Hormuz. Hal ini menyebabkan harga minyak mentah dan petrokimia ikut naik, padahal keduanya adalah bahan baku utama pembersih rumah tangga dan deterjen.

2. Kenaikan harga sedikit demi sedikit agar barang tetap laku

ilustrasi impor (dok.istimewa)

Phatak menjelaskan bahwa Unilever akan menaikkan harga secara hati-hati pada pasar dan produk tertentu. Kebijakan ini difokuskan pada produk perawatan rumah yang sangat bergantung pada harga minyak.

"Menaikkan harga adalah pilihan terakhir kami," kata Phatak, dilansir The Independent.

Phatak menolak untuk menyebutkan kapan waktu yang pasti dan berapa jumlah kenaikan harga tersebut. Analis barang konsumsi dari Quilter Cheviot, Chris Beckett, mengingatkan bahwa Unilever memiliki ruang gerak yang sempit, khususnya di negara-negara maju di Eropa.

"Mereka terhambat di beberapa pasar, terutama di negara maju Eropa. Ada batas untuk tindakan yang bisa mereka lakukan dan membuat aturan harga itu tidak mudah," jelas Beckett, dilansir Free Malaysia Today.

Walaupun begitu, perusahaan tetap yakin dengan target penjualan dan keuntungan mereka pada 2026.

3. Penjualan awal tahun lebih tinggi dari perkiraan

Bea Cukai Belawan Pastikan Standar Global Unilever Tetap Terjaga (Dok. Bea Cukai Belawan)

Unilever mencatat pertumbuhan penjualan dasar (underlying sales growth) sebesar 3,8 persen pada kuartal pertama, lebih tinggi dari perkiraan para analis yang berada di angka 3,6 persen. CEO Unilever, Fernando Fernandez, menyebut hal ini sebagai awal tahun yang sangat baik.

Keberhasilan ini didorong oleh tingginya jumlah penjualan dari merek andalan seperti Dove, Axe, dan Dermalogica. Merek-merek tersebut mencatat pertumbuhan penjualan dasar 5 persen dan peningkatan jumlah produk terjual sebesar 4 persen.

"Kami mengawali tahun dengan baik. Pertumbuhan ini didorong oleh tingginya penjualan merek andalan kami dan hasil yang positif di seluruh bagian bisnis," ungkap Fernandez.

Namun, perusahaan juga menghadapi tantangan. Pendapatan mereka turun 3,3 persen menjadi 10,9 miliar pound sterling (Rp257,17 triliun) karena nilai tukar mata uang yang sedang melemah. Kekuatan dalam menentukan harga dari perusahaan juga masih lemah di angka 0,9 persen.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team