Selat Hormuz (Wikipedia.com)
Unilever memperkirakan total kenaikan biaya tahun ini mencapai 750 juta hingga 900 juta euro (Rp15,28 triliun-Rp18,34 triliun). Biaya ini meliputi ongkos pengiriman dan operasional pabrik. Kepala Keuangan Unilever, Srinivas Phatak, menyatakan bahwa angka tersebut lebih tinggi sekitar 350 juta hingga 500 juta euro (Rp7,13 triliun-Rp10,19 triliun) dari perkiraan pada awal tahun.
"Kami akan sering menaikkan harga, tetapi dalam jumlah yang kecil," ujar Phatak, dilansir UOL Economia.
Phatak menambahkan, jika kenaikan biaya terus terjadi, Unilever bisa menaikkan harga barang hingga 2 sampai 3 persen. Kenaikan tertinggi akan terjadi di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Sementara itu, Amerika Utara tidak terlalu terdampak karena ukuran bisnis perawatan rumah (home care) di sana lebih kecil.
Konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran telah mengganggu jalur pengiriman di Selat Hormuz. Hal ini menyebabkan harga minyak mentah dan petrokimia ikut naik, padahal keduanya adalah bahan baku utama pembersih rumah tangga dan deterjen.