Kenaikan harga bahan bakar pesawat yang sangat tinggi memaksa berbagai maskapai penerbangan di dunia untuk segera menaikkan harga tiket. Langkah ini diambil agar perusahaan tetap bisa membiayai operasional mereka di tengah melonjaknya biaya energi. Air New Zealand menjadi salah satu maskapai pertama yang memberlakukan kenaikan harga ini untuk seluruh rute penerbangannya.
Maskapai asal Selandia Baru tersebut menambah biaya tiket ekonomi sebesar 10 dolar New Zealand (Rp100,2 ribu) untuk rute domestik dan 20 dolar New Zealand (Rp200,5 ribu) untuk rute internasional jarak pendek. Sementara itu, untuk penerbangan internasional jarak jauh, penumpang harus membayar tambahan hingga 90 dolar New Zealand (Rp902,2 ribu) per kursi. Langkah serupa juga diikuti oleh Qantas Airways dari Australia yang memastikan harga tiket internasional mereka akan naik dalam minggu ini akibat konflik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak dunia.
Di Eropa, maskapai SAS dari Skandinavia juga terpaksa menyesuaikan harga tiket untuk sementara waktu karena kondisi pasar yang tidak menentu. Pihak perusahaan menyatakan, kenaikan biaya bahan bakar saat ini harus segera ditanggapi agar layanan mereka tetap berjalan dengan baik.
"Peningkatan dalam skala sebesar ini membuat kami perlu bereaksi untuk mempertahankan operasi yang stabil dan dapat diandalkan," ujar juru bicara SAS dalam pernyataan resminya, dilansir Dawn.
Perubahan harga juga terjadi di kawasan Asia, di mana Hong Kong Airlines akan menaikkan biaya tambahan bahan bakar mulai Kamis (12/3). Kenaikan biaya ini mencapai 35,2 persen dari tarif sebelumnya, terutama pada rute menuju Maladewa, Bangladesh, dan Nepal. Selain itu, Air India juga berencana menaikkan biaya tambahan secara bertahap, mulai dari 25 dolar AS (Rp421,70 ribu) untuk rute ke Eropa hingga 50 dolar AS (Rp843,41 ribu) untuk rute ke Amerika Utara. Untuk penerbangan domestik di India, penumpang akan dikenakan biaya tambahan tetap sebesar 399 rupee India (Rp73,26 ribu) mulai Kamis (12/3).
Kenaikan harga tiket ini diprediksi akan segera merambah ke pasar AS dalam waktu dekat. CEO United Airlines, Scott Kirby memperingatkan, harga tiket pesawat bisa melonjak cepat jika harga bahan bakar terus berada di posisi yang tinggi. Situasi ini sulit dihindari bagi maskapai yang tidak memiliki asuransi perlindungan harga bahan bakar, sehingga mereka harus membebankan biaya tersebut langsung kepada penumpang agar bisnis tetap bisa bertahan.