Kantor pusat Bank Indonesia (BI). (IDN Times/Vadhia Lidyana)
Perry mengatakan, BI telah menyiapkan strategi untuk menangani tekanan konflik geopolitik di Timur Tengah.
“Kami terus akan mengoptimalkan di moneter, tiga instrumen intervensi dengan kecukupan cadangan devisa, dan diperkuat dengan kebijakan suku bunga,” ujar Perry.
Destry mengatakan, untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah saat libur panjang Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri, BI terus memantau pergerakannya di Pasar Non-Deliverable Forward (NDF) atau pasar valuta asing offshore (luar negeri).
“Nah ini yang kami terus berjaga-jaga, 24 jam kami terus memantau pasar untuk rupiah dolar yang dalam hal ini kami lihat melalui pasar NDF. Jadi dia akan terus, walaupun kita Lebaran libur, tapi kami di BI terus bekerja sama dengan BI New York terus melakukan pemantauan. Dan jika dibutuhkan kami akan melakukan intervensi di pasar NDF,” tutur Destry.
Di sisi lain, upaya stabilitas terus dilakukan dengan meningkatkan transaksi menggunakan mata uang lain melalui Local Currency Transaction (LCT).
“Februari LCT mencapai 4,1 miliar dolar AS. Dan yang terbesar di sini adalah China, di mana per bulan mereka mencapai 3 miliar dolar AS. Total mencapai 4,12 miliar dolar AS per Februari. Artinya kebutuhan mata uang lain selain dolar makin meningkat di Indonesia,” ujar Destry.