ilustrasi logo IMF (twitter.com/Oworock)
IMF menyampaikan peringatan keras bahwa rencana pengurangan pajak konsumsi oleh pemerintah Jepang merupakan langkah yang tidak efisien dan dapat merusak kapasitas fiskal negara dalam jangka panjang. Rencana Perdana Menteri Sanae Takaichi untuk menangguhkan pajak konsumsi sebesar 8 persen pada produk makanan dinilai akan meningkatkan risiko terhadap keberlanjutan utang publik. Sebagai alternatif, lembaga keuangan global tersebut menyarankan agar pemerintah lebih fokus pada pemberian bantuan yang bersifat sementara dan hanya ditargetkan kepada kelompok rumah tangga yang paling membutuhkan.
Kekhawatiran ini didasari oleh proyeksi beban pembayaran bunga atas utang publik Jepang yang diperkirakan akan melonjak dua kali lipat pada tahun 2031 dibandingkan dengan level pada tahun 2025. Kenaikan tersebut dipicu oleh kewajiban pemerintah untuk membiayai kembali utang lama dengan tingkat imbal hasil obligasi yang kini jauh lebih tinggi di pasar global.
Merespons peringatan tersebut, Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, menyatakan bahwa pemerintah akan tetap berupaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kesehatan fiskal.
"Tidak ada perubahan dalam sikap pemerintah untuk menyeimbangkan pencapaian ekonomi yang kuat dengan keberlanjutan fiskal, sambil tetap memperhatikan rekomendasi IMF," ujar Satsuki Katayama, dilansir Morningstar.
Ia juga memastikan bahwa pemerintah tidak berencana menerbitkan obligasi defisit tambahan guna menutup potensi hilangnya pendapatan negara akibat kebijakan pajak tersebut.
Rencana penangguhan pajak konsumsi makanan selama dua tahun ini sebenarnya merupakan salah satu janji kampanye utama Partai Demokrat Liberal (LDP) di bawah kepemimpinan Takaichi untuk membantu warga menghadapi kenaikan biaya hidup. Namun, pasar obligasi memberikan reaksi negatif yang ditandai dengan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun hingga mencapai 2,38 persen, yang merupakan level tertinggi sejak tahun 1999. Kondisi ini menunjukkan besarnya kekhawatiran pasar terhadap stabilitas keuangan Jepang jika kebijakan tersebut tetap dijalankan.
Juru bicara IMF, Julie Kozack, sebelumnya juga mengingatkan bahwa ruang fiskal Jepang saat ini sangat terbatas karena total utang publik telah melampaui dua kali lipat dari Produk Domestik Bruto (PDB).
"Saran kami kepada Jepang adalah bahwa setiap respons fiskal terhadap guncangan harus bersifat sementara dan juga terarah," kata Julie Kozack, dilansir Japan Times.
Ia menambahkan bahwa pemberian subsidi umum serta pemotongan pajak secara luas bukanlah cara yang efisien dalam mengelola anggaran negara yang terbatas.
Di sisi lain, pemerintah Jepang juga harus menghadapi tekanan beban jaminan sosial yang terus meningkat akibat populasi yang menua dengan cepat. Meskipun Proposal Reformasi Pajak 2026 sedang dibahas untuk meningkatkan efisiensi pendapatan melalui pajak impor perdagangan elektronik, tantangan utama tetap pada pengendalian defisit anggaran. Tanpa sumber pendanaan yang stabil, paket belanja besar yang terus digulirkan dikhawatirkan akan memperlebar defisit primer dan mengancam stabilitas ekonomi nasional di masa depan.