Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Screenshot 2026-01-03 230314.jpg
Chief Executive Officer (CEO) INA Ridha D.M Wirakusuma dalam Program Real Talk bersama Editor In Chief IDN Times Uni Lubis. (Dok/Youtube IDN Times).

Intinya sih...

  • Mitra Internasional INA berasal dari berbagai sektor.

  • Investasi difokuskan pada proyek yang mendorong pembangunan ekonomi dan dampak jangka panjang

  • INA dibentuk untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional untuk jangka panjang

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Indonesia Investment Authority (INA) mencatat perkembangan kinerja yang cukup solid sejak mulai aktif berinvestasi. Sovereign wealth fund (SWF) milik pemerintah ini telah menempatkan dana pada 25 proyek di berbagai sektor strategis. Dari jumlah tersebut, tiga proyek sudah menghasilkan keuntungan yang positif.

"So secara konklusi itu we have invested 25 times, 25 deal, 25 project berarti? Sudah exit tiga dengan hasil yang baik sekali. Berpartner dengan 40 partners dari 15 negara dan partners tersebut termasuk dana pensiun-dana pensiun dari berbagai negara," tegas Chief Executive Officer (CEO) INA Ridha D.M Wirakusuma dalam Program Real Talk bersama Editor In Chief IDN Times Uni Lubis, dikutip Sabtu (3/1/2026).

1. Mitra Internasional INA berasal dari berbagai sektor

Chief Executive Officer (CEO) INA Ridha D.M Wirakusuma dalam Program Real Talk bersama Editor In Chief IDN Times Uni Lubis. (Dok/Youtube IDN Times).

INA menekankan, strategi investasi difokuskan pada proyek yang memiliki arus kas stabil, berdampak pada pembangunan, serta berpotensi memberi manfaat ekonomi jangka panjang.

Menurut Ridha, mitra internasional yang bekerja sama dengan INA berasal dari berbagai kategori, antara lain dana pensiun global, SWF, manajer aset, perusahaan asuransi, perusahaan strategis, hingga private equity. INA menilai, variasi jenis investor tersebut menunjukkan tingkat kepercayaan yang cukup kuat terhadap prospek investasi di Indonesia.

Namun demikian, INA menyebut sampai saat ini belum ada dana pensiun dalam negeri yang bergabung sebagai mitra. “Dana pensiun (dalam negeri) belum ada yang mau partner sama kita. Tapi kalau dari luar negeri sudah banyak sekali,” ujar Ridha.

2. Investasi difokuskan pada proyek yang mendorong pembangunan ekonomi dan dampak jangka panjang

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Dok. IDN Times)

Menurut Ridha, para mitra itu bersedia menempatkan dana untuk berinvestasi di proyek-proyek besar yang mayoritas berada di Indonesia. Investasi tersebut difokuskan pada proyek yang mendorong pembangunan ekonomi dan memberikan dampak jangka panjang.

“Mereka yakin untuk berinvestasi di Indonesia. (Melakukan) investasi pada sebuah proyek yang amat sangat membantu development, tapi juga membawa hikmah untuk kita bisa menghasilkan nilai tambah yang bisa kita tabung untuk anak cucu kedepan," tegas Ridha.

3. INA dibentuk untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional untuk jangka panjang

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (IDN Times/Aditya Pratama)

Indonesia Investment Authority (INA) merupakan sovereign wealth fund Indonesia yang dibentuk untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional serta membangun nilai jangka panjang bagi generasi mendatang. INA didirikan pada Desember 2020 sebagai lembaga sui generis, yakni entitas hukum yang bersifat unik dan beroperasi independen dari birokrasi pemerintahan, namun tetap akuntabel kepada negara.

Tata kelola INA diatur melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 yang kemudian digantikan oleh Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Perppu Cipta Kerja menjadi Undang-Undang, serta Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2020 tentang Lembaga Pengelola Investasi. Struktur ini memungkinkan INA memadukan disiplin pengawasan publik dengan kelincahan lembaga investasi profesional.

Dengan mandat tersebut, INA menegaskan akan terus membuka ruang kerja sama, termasuk bagi investor domestik, agar manfaat investasi dapat dirasakan lebih luas di dalam negeri. Pada saat yang sama, keterlibatan berbagai investor institusi global dinilai sebagai cerminan kepercayaan terhadap prospek perekonomian Indonesia sekaligus keyakinan pada tata kelola INA.

Editorial Team