Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi berjabat tangan
ilustrasi berjabat tangan (pexels.com/fauxels)

Intinya sih...

  • Banyak kolaborasi dimulai dari rasa percaya tanpa diskusi mendalam. Peran, target, dan batas tanggung jawab sering hanya dipahami secara asumsi. Saat realitas tidak sesuai bayangan, konflik mulai muncul.

  • Di awal, ketimpangan peran sering ditoleransi demi menjaga suasana. Satu pihak bekerja lebih banyak, pihak lain dianggap “nanti juga menyesuaikan”. Masalahnya, pola ini cepat menjadi kebiasaan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kolaborasi bisnis sering terdengar ideal di awal. Visi sejalan, semangat tinggi, dan pembagian peran terasa jelas. Namun seiring waktu, tidak sedikit kolaborasi justru berakhir canggung, renggang, bahkan putus hubungan.

Masalahnya jarang muncul dari satu kejadian besar. Biasanya akumulasi hal kecil yang diabaikan sejak awal. Untuk memahaminya, kamu perlu melihat kolaborasi secara teknis, bukan emosional.

1. Ekspektasi tidak pernah dibicarakan secara terbuka

ilustrasi diskusi di kantor (pexels.com/Christina Morilla)

Banyak kolaborasi dimulai dari rasa percaya tanpa diskusi mendalam. Peran, target, dan batas tanggung jawab sering hanya dipahami secara asumsi. Saat realitas tidak sesuai bayangan, konflik mulai muncul.

Secara teknis, ekspektasi yang tidak tertulis menciptakan ruang interpretasi berbeda. Masing-masing merasa sudah melakukan yang terbaik. Tapi standar “terbaik” itu ternyata tidak sama.

2. Pembagian peran tidak seimbang sejak awal

ilustrasi diskusi dengan klien (pexels.com/Pixabay)

Di awal, ketimpangan peran sering ditoleransi demi menjaga suasana. Satu pihak bekerja lebih banyak, pihak lain dianggap “nanti juga menyesuaikan”. Masalahnya, pola ini cepat menjadi kebiasaan.

Dalam jangka panjang, ketimpangan ini memicu rasa tidak adil. Secara psikologis dan operasional, ini berbahaya. Kolaborasi berubah dari kerja sama menjadi beban sepihak.

3. Uang dibahas belakangan, bukan di depan

ilustrasi berjabat tangan (pexels.com/fauxels)

Topik uang sering dihindari karena dianggap sensitif. Banyak kolaborasi baru membahas pembagian hasil setelah uang benar-benar masuk. Di titik ini, emosi sudah terlibat.

Secara teknis, uang adalah variabel paling rawan konflik. Tanpa kesepakatan jelas soal pembagian, biaya, dan risiko, kolaborasi mudah retak. Bukan karena serakah, tapi karena ketidakjelasan.

4. Tidak ada mekanisme pengambilan keputusan

ilustrasi diskusi dua orang (pexels.com/cottonbro studio)

Kolaborasi sering berjalan tanpa sistem keputusan yang jelas. Semua dibahas bersama, tapi tidak ada penentu akhir. Saat pendapat berbeda, diskusi berlarut tanpa solusi.

Dalam praktik bisnis, ini menghambat eksekusi. Keputusan tertunda berarti peluang hilang. Secara teknis, kolaborasi butuh struktur, bukan hanya kesepakatan informal.

5. Hubungan personal terlalu mendominasi profesional

ilustrasi berjabat tangan (pexels.com/Khwanchai Phanthong)

Banyak kolaborasi berangkat dari pertemanan. Ini memberi modal kepercayaan, tapi juga risiko. Saat konflik muncul, kritik jadi ditahan demi menjaga perasaan.

Akibatnya, masalah tidak diselesaikan saat masih kecil. Secara teknis, ini membuat konflik membusuk. Hubungan profesional rusak, hubungan personal pun ikut terdampak.

Kolaborasi bisnis berakhir canggung bukan karena niat buruk. Lebih sering karena fondasi yang lemah sejak awal. Hal-hal teknis dianggap sepele karena terlalu percaya suasana baik akan bertahan.

Jika kamu ingin kolaborasi bertahan lama, bicarakan hal sulit sejak awal. Perjelas peran, uang, dan keputusan secara terbuka. Kolaborasi yang sehat bukan yang tanpa konflik, tapi yang punya sistem untuk mengelolanya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team