Ilustrasi gorengan (Unsplash.com/ TRẦN THANH HẢI)
Banyak pelaku usaha hanya menyiapkan stok dan promo, tetapi tidak membuat proyeksi cashflow. Padahal periode Ramadan memiliki pola khusus, baik dari sisi pemasukan maupun pengeluaran.
Tanpa perencanaan, keputusan diambil secara reaktif. Begitu ada permintaan naik, langsung belanja besar. Begitu penjualan turun setelah Lebaran, baru terasa dampaknya. Perencanaan arus kas seharusnya dilakukan sebelum musim ramai dimulai.
Ramadan memang bisa menjadi momen emas bagi UMKM, tetapi juga bisa menjadi jebakan jika tidak dikelola dengan matang. Omzet tinggi tidak menjamin arus kas sehat. Yang menentukan adalah manajemen margin, stok, dan pengeluaran.
Jika ingin Ramadan benar-benar jadi bulan panen, fokuslah pada cashflow, bukan sekadar angka penjualan. Dengan perencanaan yang tepat, usaha bisa tetap stabil bahkan setelah euforia musim ramai berakhir.