Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi logo Unilever (unilever.com)
ilustrasi logo Unilever (unilever.com)

Intinya sih...

  • Pendapatan bersih dari operasi yang masih berjalan naik 4,3 persen secara tahunan menjadi Rp31,9 triliun.

  • Unilever Indonesia fokus pada transformasi portofolio dan distribusi dengan meningkatkan investasi pada merek, memperkuat proposisi produk, dan memperluas jaringan ritel.

  • Unilever Indonesia menargetkan pertumbuhan berbasis kualitas dan volume yang melampaui tren pasar untuk 2026.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - PT Unilever Indonesia Tbk mencatat penjualan bersih dari operasi yang masih berjalan (tidak termasuk bisnis es krim dan Teh Sariwangi) sebesar Rp31,9 triliun pada 2025, dengan laba bersih Rp3,5 triliun, didorong peningkatan volume penjualan pada kuartal IV serta kinerja penjualan domestik dan ekspor.

Presiden Direktur Unilever Indonesia Benjie Yap mengatakan, momentum pemulihan bisnis terus menguat seiring langkah disiplin dan perubahan struktural yang dijalankan sepanjang tahun. Dia menilai, perbaikan tersebut tercermin dari pertumbuhan dan peningkatan profitabilitas, meski lingkungan bisnis tetap dinamis.

"Meskipun lingkungan bisnis akan tetap dinamis, kinerja ini memperkuat keyakinan bahwa kami berada di jalur yang tepat – membangun bisnis yang lebih kompetitif, lebih tangguh, dan lebih siap untuk meraih pertumbuhan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan di tahun-tahun mendatang," katanya dalam keterangan resmi, Kamis (12/2/2026).

1. Ringkasan kinerja Unilever Indonesia pada 2025

Kinerja keuangan (pexels.com/Pixabay)

Pendapatan bersih dari operasi yang masih berjalan naik 4,3 persen secara tahunan menjadi Rp31,9 triliun. Margin laba bruto tercatat 46,9 persen, turun 60 basis poin akibat biaya transformasi, namun naik 46 basis poin jika biaya tersebut dikecualikan.

Laba sebelum pajak dari operasi yang masih berjalan mencapai 14,1 persen, meningkat 183 basis poin dibandingkan tahun sebelumnya, atau 16,3 persen tanpa memperhitungkan biaya transformasi. Laba bersih dari operasi yang masih berjalan tercatat Rp3,5 triliun, tumbuh 21,8 persen secara tahunan, dan mencapai Rp4,1 triliun jika biaya transformasi dikecualikan.

Jika memasukkan kontribusi operasi yang dihentikan serta laba dari penjualan bisnis es krim, laba bersih perseroan tercatat Rp7,6 triliun. Arus kas bebas (free cash flow) mencapai Rp4,9 triliun, 1,7 kali lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, dengan posisi tanpa utang.

2. Transformasi portofolio dan distribusi jadi fokus pada 2025

Kantor Pusat Unilever Indonesia. (dok. Unilever Indonesia)

Unilever Indonesia menyebut, strategi pertumbuhan jangka panjang bertumpu pada tiga pilar utama, yakni penguatan kategori, saluran penjualan, dan efisiensi biaya.

Pada sisi kategori, perseroan meningkatkan investasi pada merek, memperkuat proposisi produk, mengintensifkan promosi berbasis digital, melakukan penyesuaian harga selektif, premiumisasi, serta modernisasi kemasan. Kontribusi segmen dengan pertumbuhan tinggi meningkat dari 8 persen menjadi 9,8 persen.

Divestasi bisnis es krim dan teh disebut memungkinkan perusahaan fokus pada merek inti (power brands), dengan 16 merek utama berkontribusi 75 persen terhadap total penjualan dan mencatat pertumbuhan 9,1 persen.

Di sisi saluran penjualan, perseroan memperkuat infrastruktur distribusi, memperluas jaringan ritel, serta meningkatkan kehadiran di kanal digital dan kategori Health & Beauty yang tumbuh pesat. Langkah itu diklaim memperkuat posisi perusahaan di perdagangan tradisional dan ekosistem digital.

Sementara itu, perusahaan menekankan disiplin efisiensi biaya di seluruh rantai nilai untuk mendukung reinvestasi pada merek, inovasi, dan prioritas pertumbuhan strategis, sekaligus memperkuat margin dan fondasi keuangan.

3. Unilever pertahankan momentum pada 2026

Gedung Unilever Indonesia. (Dok. Unilever)

Untuk 2026, Unilever Indonesia menargetkan pertumbuhan berbasis kualitas dan volume yang melampaui tren pasar. Pihaknya memperkirakan pertumbuhan kuartal I-2026 akan melambat sementara akibat pergeseran pola belanja menjelang Idul Fitri, namun menilai dampak tersebut bersifat musiman dan tidak mencerminkan fundamental bisnis.

“Kami memulai 2026 dengan keyakinan pada fondasi yang telah kami bangun dan fokus yang jelas untuk memberikan dampak,” kata Benjie.

Unilever Indonesia memasuki 2026 dengan keyakinan terhadap fondasi yang telah dibangun, dengan fokus pada disiplin eksekusi, penguatan merek, dan implementasi strategi di seluruh kanal distribusi.

"Prioritas kami adalah untuk terus tumbuh secara berkelanjutan, bertanggung jawab, dan memberikan nilai nyata bagi masyarakat Indonesia di 2026 dan tahun-tahun mendatang" ujarnya.

Editorial Team