Ilustrasi Hacker (IDN Times/Arief Rahmat)
Ferdinan mengatakan, modus kejahatan phising masih meningkat biasanya dengan memanfaatkan celah dari faktor manusia. Sebab, biasanya perusahaan, terutama perbankan sudah memiliki proteksi yang kuat.
“Kalau dari sisi perusahaan, sistem itu sebenarnya tidak mudah ditembus. Cara paling mudah memang lewat phishing dan social engineering,” tutur Ferdinan.
BCA senantiasa mengantisipasi berbagai modus kejahatan siber, dengan menerapkan strategi keamanan berbasis tiga pilar utama, yakni people, process, dan technology.
“Kami selalu fokus ke tiga hal itu. Tidak bisa hanya pasang teknologi, tapi orangnya tidak capable dan tidak aware,” tutur Ferdinan.
Dikarenakan faktor manusia kerap dimanfaatkan karena menjadi titik terlemah dalam sistem keamanan, kesadaran harus ditingkatkan.
“People itu selalu jadi titik lemah di kasus mana pun. Karena itu kami rutin melakukan security awareness ke semua karyawan, dari manajemen, direksi, sampai seluruh staf,” kata Ferdinan.
Pihaknya juga secara berkala melakukan simulasi phishing untuk menguji kewaspadaan karyawan.
“Kami lakukan tes phishing, dilihat berapa banyak yang meng-klik dan berapa yang sampai input data. Ini untuk memastikan karyawan benar-benar aware dan tidak sembarangan memasukkan kredensial,” ucap Ferdinan.