Jakarta, IDN Times - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) mempertanyakan angka pertumbuhan ekonomi (PDB) Indonesia di Kuartal I 2026 (year on year) yang berdasarkan data Badan Pusat Statistik mencapai 5,61 persen, atau tertinggi sejak 2012. Ada banyak anomali. Angka itu kemungkinan dilebih-lebihkan.
“Tinjauan kami menunjukkan angka 5,61 persen (year on year) dipertanyakan sebagai ukuran kesehatan ekonomi. Yang mengejutkan, data BPS sendiri mengungkapkan inkonsistensi internal,” demikian Laporan Khusus Mei 2026 yang ditulis Mohamad Ikhsan dan Teuku Riefky yang dikutip IDN Times, Rabu 13 Mei 2026.
Di antara ketidakkonsistenan itu adalah sektor Listrik, Gas dan Air yang mencatat pertumbuhan negatif (-0,99 persen), sementara Manufaktur dilaporkan tumbuh 5,04 persen. “Jika pasokan listrik mengalami kontraksi, pertumbuhan manufaktur tersebut sulit dibenarkan secara fisik,” tulis laporan itu.
Berdasarkan inkonsistensi data BPS itu sendiri, LPEM UI menghitung perkiraan PDB Kuartal i 2026 yang realistis sebesar 4,6 - 4,9 persen. “Bahkan jika dikombinasikan dengan pembalikan fiskal pada Kuartal II hingga Kuartal IV, risiko El Nino, dan transmisi perang Iran, kami memproyeksikan pertumbuhan sepanjang tahun 2023 sebesar 4,0 - 4,5 persen sebagai hasil yang realistis dan kredibel,” penjelasan LPEM UI.
