ilustrasi. pabrik BYD di subang(instagram.com/byd_indonesia)
Laporan China Labor Watch menyebutkan bahwa pekerja migran asal China harus membayar biaya rekrutmen tinggi untuk bekerja di proyek konstruksi pabrik BYD di Szeged. Biaya ini berkisar antara 1.100 dolar AS (Rp18,85 juta) hingga 2.780 dolar AS (Rp47,69 juta), yang menjadi beban finansial signifikan bagi buruh berpenghasilan rendah.
Banyak pekerja meminjam uang untuk membayar biaya ini. Hal tersebut menciptakan keterikatan utang, yang membuat mereka tetap bekerja meski kondisi lingkungan kerja tidak memadai. Pekerja merasa tidak memiliki pilihan karena tidak mampu melunasi utang jika berhenti sebelum masa kontrak selesai.
"Konsumen perlu tahu kondisi sebenarnya dari para pekerja di balik produksi mobil listrik ini," kata Project Officer China Labor Watch, Elaine Lu, dilansir The Edge Singapore.
Selain utang, laporan itu juga mencatat dugaan penahanan sebagian gaji oleh pihak subkontraktor. Sekitar 20 hingga 30 persen upah bulanan pekerja ditahan dan baru dibayarkan setelah kontrak satu tahun selesai atau saat mereka pulang ke negara asal. Praktik ini dinilai membatasi mobilitas pekerja untuk mengundurkan diri.
Situasi ini diperumit dengan dugaan penggunaan visa bisnis untuk pekerja konstruksi, bukan izin kerja resmi sesuai hukum Hungaria. Akibatnya, pekerja migran berisiko kehilangan akses terhadap perlindungan hukum tenaga kerja dan layanan kesehatan gratis jika terjadi kecelakaan di lapangan.
Investigasi pada Oktober dan November 2025 yang mewawancarai 50 pekerja mengonfirmasi praktik ini. Banyak pekerja direkrut dari daerah pedesaan di China dengan kesepakatan awal yang berbeda dari kenyataan di lokasi proyek. Mereka tinggal di asrama dengan fasilitas terbatas, di mana satu asrama dihuni oleh sekitar 450 orang.
"Pekerja China yang didatangkan ke lokasi ini bekerja dalam kondisi yang jauh dari standar kelayakan," kata Elaine Lu, dilansir CBC.
Kondisi tersebut makin disorot setelah adanya laporan kematian seorang pekerja China di proyek itu pada Februari 2026. China Labor Watch mendesak otoritas Hungaria segera memeriksa kepatuhan operasional proyek terhadap hukum ketenagakerjaan dan imigrasi setempat agar masalah serupa tidak menjadi preseden di industri kendaraan listrik Eropa.