Jakarta, IDN Times - Peluncuran layanan kereta listrik Kuala Lumpur-Johor Bahru di Malaysia memicu perbandingan dengan kereta cepat Whoosh di Indonesia.
Profesor Desain Perkotaan / UDx di Monash University Indonesia, Stephen Cairns, menilai perbandingan biaya semata tidak cukup untuk menilai pilihan infrastruktur kedua negara, karena konteks dan tujuan pembangunan berbeda menghasilkan dampak perkotaan yang juga berbeda.
Cairns menjelaskan, Malaysia menghabiskan sekitar 14,6 juta dolar AS per kilometer (km) untuk peningkatan jalur kereta listrik dengan kecepatan 160 km per jam, sementara Indonesia mengalokasikan sekitar 51 juta dolar AS per km untuk kereta cepat dengan kecepatan 350 km per jam.
Menurutnya, selisih biaya tersebut kerap dijadikan dasar kritik, padahal angka konstruksi tidak sepenuhnya mencerminkan skala dan fungsi sistem yang dibangun.
"Taruhan mahal Indonesia pada akhirnya bisa menjadi pilihan lebih strategis bagi sebuah negara yang sedang membangun infrastruktur masa depan perkotaannya," kata dia dikutip IDN Times.
