Kapal tanker PT Pertamina International Shipping (PIS). (dok. PIS)
Konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari 2026. Serangan itu disebut sebagai operasi militer besar dan dilaporkan menewaskan pemimpin tertinggi Iran serta sejumlah pejabat militernya.
"Bagi banyak orang Indonesia, konflik ini mungkin terasa jauh. Namun jika melihat data dan struktur ekonomi kita, dampaknya justru bisa sangat dekat, bahkan bisa terasa langsung di dapur rumah tangga," tulis Institute for Essential Services Reform (IESR) dikutip IDN Times.
Hal tersebut terutama karena struktur energi Indonesia masih bergantung pada impor. Saat ini konsumsi minyak Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 1,7 juta barel per hari, sementara produksi domestik hanya sekitar 860 ribu barel. Artinya hampir separuh kebutuhan minyak nasional masih harus dipenuhi dari impor.
Selama ini Arab Saudi menjadi pemasok terbesar minyak mentah Indonesia dengan porsi sekitar 38 persen atau lebih dari 1,2 miliar dolar AS per tahun. Sumber impor lainnya berasal dari Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait.
Ketergantungan juga terlihat pada LPG. Sekitar setengah kebutuhan LPG Indonesia berasal dari Uni Emirat Arab, Qatar, Arab Saudi, dan Kuwait, sementara sisanya dipasok dari Amerika Serikat. Komoditas ini sangat krusial karena digunakan oleh lebih dari 70 juta rumah tangga, terutama melalui tabung LPG 3 kilogram bersubsidi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan impor minyak dan gas Indonesia pada 2024 mencapai 36,28 miliar dolar AS, dengan LPG menjadi salah satu komponen terbesar. Ketika harga energi global naik akibat konflik, tekanan langsung dirasakan melalui kenaikan biaya impor, beban subsidi energi, hingga neraca perdagangan.
Selain itu, jalur distribusi energi global juga menghadapi risiko gangguan. Sebagian besar pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah menuju Asia harus melewati Selat Hormuz, jalur laut sempit dengan lebar sekitar 21 mil yang kini menjadi pusat ketegangan geopolitik.
IESR menilai gangguan di jalur tersebut dapat berdampak besar pada pasar energi global. Sebagai gambaran, serangan udara Israel ke Teheran pada Juni 2025 sempat mendorong harga minyak Brent melonjak 13 persen dalam hitungan jam.
"Bagi Indonesia, harga minyak USD 100 bukan sekadar angka di berita. Setiap kenaikan USD 1 per barel berpotensi memperlebar defisit anggaran hingga sekitar Rp6,8 triliun. Jika harga benar-benar menyentuh 100 dolar AS, beban subsidi bisa melonjak drastis dan mengancam stabilitas pasokan LPG 3 kg," tulis IESR.