Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Model Negosiasi Tarif Ride-Hailing Disorot di Kawasan APAC
Ilustrasi InDrive/(dok InDrive)
  • Dinamika aksi pengemudi di kawasan Asia Pasifik menunjukkan meningkatnya tuntutan transparansi, keadilan, dan keseimbangan dalam industri ride-hailing yang terus berkembang.
  • Perbedaan regulasi, kondisi ekonomi, serta tingkat persaingan di tiap negara memengaruhi struktur tarif dan komisi, sehingga pendekatan lokal menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
  • Model penentuan harga berbasis negosiasi memberi fleksibilitas bagi pengemudi dan penumpang untuk menyepakati tarif secara langsung, sementara pemerintah berperan menciptakan ekosistem yang lebih seimbang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times — Dinamika industri ride-hailing di berbagai negara, termasuk Indonesia, terus berkembang seiring perubahan regulasi, kondisi ekonomi, serta meningkatnya perhatian terhadap isu tarif, komisi, dan perlindungan pengemudi.

Sejumlah aspek tersebut menjadi bagian dari diskusi yang lebih luas mengenai keseimbangan ekosistem layanan mobilitas di kawasan Asia Pasifik.

Platform mobilitas dan layanan pengantaran global, menilai pentingnya memahami isu tersebut dalam konteks regional untuk melihat dinamika yang terjadi di berbagai negara di kawasan Asia Pasifik.

1. Dinamika aksi pengemudi cerminkan kebutuhan transparansi

Demo ojol dan kurir shopefoood di Tugu. (IDN Times/ Wachidah Nur)

Regional Director APAC inDrive, Mark Tolley menyampaikan, dinamika aksi pengemudi di berbagai negara mencerminkan meningkatnya kebutuhan akan transparansi, keadilan, dan keseimbangan dalam ekosistem industri.

Ia menekankan bahwa isu tarif, komisi, dan kesejahteraan pengemudi tidak hanya terjadi di satu pasar, tetapi juga menjadi perhatian di berbagai negara di kawasan APAC.

“Dari perspektif Asia Pasifik, aksi pengemudi yang terjadi di berbagai negara mencerminkan meningkatnya kebutuhan akan transparansi, keadilan, dan keseimbangan dalam ekosistem industri,” ucapnya dalam keterangan, Selasa (19/5/2026).

2. Regulasi dan kondisi ekonomi mempengaruhi dinamika industri

Regional Director APAC inDrive, Mark Tolley /dok InDrive

Ia menjelaskan, meskipun terdapat kesamaan tantangan seperti tekanan biaya operasional dan struktur komisi, setiap negara memiliki konteks berbeda, baik dari sisi regulasi, kondisi ekonomi, maupun tingkat persaingan. Karena itu, pendekatan yang digunakan perlu mempertimbangkan kondisi lokal di masing-masing pasar.

"Faktor lokal seperti regulasi dan kondisi ekonomi disebut memiliki pengaruh dalam membentuk dinamika industri, termasuk dalam penentuan tarif serta keseimbangan antara permintaan dan penawaran," katanya.

3. Model penentuan harga berbasis negosiasi memberikan fleksibilitas bagi pengemudi

Ibu Anis - Driver inDrive dalam Impact Discussions bersama Produser dan Pemeran Utama Wanita Woman from Rote Island (dok. Istimewa)

Dalam konteks ini, model penentuan harga berbasis negosiasi digunakan sebagai salah satu pendekatan yang memungkinkan pengemudi dan penumpang menyepakati tarif secara langsung sesuai kondisi di lapangan.

“Model penentuan harga berbasis negosiasi memberikan fleksibilitas bagi pengemudi untuk menyesuaikan tarif sesuai kondisi aktual, sekaligus menciptakan transparansi karena harga ditentukan melalui kesepakatan bersama,” ungkap Mark.

4. Pemerintah berperan menciptakan ekosistem yang lebih seimbang

Demo Ojol di depan Kantor Dishub Jatim. Dok. Ist.

Dalam hubungan dengan komunitas pengemudi, inDrive menggunakan berbagai kanal komunikasi, pertemuan rutin, serta inisiatif lokal. Di Indonesia, pendekatan tersebut juga mencakup keberadaan driver lounge di beberapa kota sebagai ruang interaksi dan penyampaian aspirasi.

Dari sisi regulasi, inDrive memandang pemerintah sebagai pihak yang berperan dalam menciptakan ekosistem yang lebih seimbang dan berkelanjutan. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan komunitas pengemudi disebut menjadi penting dalam pengembangan kebijakan yang sesuai dengan kondisi industri.

"Secara khusus di Indonesia, diskusi terkait struktur tarif dan komisi disebut sebagai bagian dari perkembangan industri ride-hailing. Transparansi dan struktur komisi dinilai menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keseimbangan antara kebutuhan pengemudi dan keterjangkauan bagi pengguna," ucapnya.

Editorial Team