Ilustrasi pekerja menyiapkan paket makanan untuk program makan bergizi gratis (MBG) di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). (ANTARA FOTO/Muhammad Mada)
Moody’s menyebut pemerintah menargetkan peningkatan pertumbuhan ekonomi untuk mencapai status negara berpendapatan tinggi melalui ekspansi belanja sosial, sambil tetap mempertahankan kerangka kebijakan moneter dan fiskal.
"Namun, selama setahun terakhir, berkurangnya prediktabilitas dan koherensi dalam proses perumusan kebijakan, serta komunikasi kebijakan yang kurang efektif, telah meningkatkan risiko terhadap kredibilitas kebijakan Indonesia di mata investor, sebagaimana tercermin dalam meningkatnya volatilitas pasar saham dan nilai tukar," tulis Moody’s.
Lembaga itu mencatat perkembangan tersebut sejalan dengan penurunan skor Indonesia dalam indikator tata kelola global, khususnya pada efektivitas pemerintah dan kualitas regulasi. Jika berlanjut, pelemahan kredibilitas kebijakan dinilai dapat menekan daya tarik investasi dan meningkatkan biaya pembiayaan pemerintah.
Moody’s juga menilai fokus belanja publik untuk mendorong pertumbuhan menimbulkan risiko fiskal, mengingat basis penerimaan negara yang lemah. Perluasan program sosial seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Perumahan Terjangkau disebut berpotensi membebani fleksibilitas anggaran, terutama jika ekspansi program tidak diimbangi peningkatan penerimaan.
Ketidakpastian juga dikaitkan dengan pembentukan dana kekayaan negara Danantara, khususnya terkait pembiayaan, tata kelola, dan prioritas investasi. Dengan kewenangan atas aset BUMN dalam jumlah besar, koordinasi kebijakan yang tidak memadai dinilai dapat menimbulkan risiko terhadap kredibilitas kebijakan serta kewajiban kontinjensi bagi pemerintah.
"Meski Danantara masih dalam tahap awal pengembangan dan pemerintah telah membentuk kerangka hukum dan institusional, masih terdapat pertanyaan terkait prioritas investasi, manajemen risiko, dan hubungan regulasi," tulis Moody’s.
Selain itu, usulan perubahan kerangka fiskal, perdebatan terkait mandat dan tata kelola Bank Indonesia, serta perubahan kebijakan sektor sumber daya alam disebut menambah ketidakpastian kebijakan yang berpotensi menghambat investasi asing dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan.
Moody’s juga mencatat meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap pertumbuhan pendapatan dan peluang kerja sebagai faktor risiko stabilitas politik domestik yang dapat membebani profil kredit Indonesia.