Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Negara-Negara dengan Utang Terbesar di Dunia, Ada Indonesia?
Ilustrasi Utang. (IDN Times/Aditya Pratama)
  • Hong Kong dan Jepang menempati posisi teratas negara dengan rasio utang tertinggi di dunia, masing-masing mencapai 380 persen dan 372 persen terhadap PDB.
  • Singapura menjadi negara ASEAN dengan rasio utang terbesar, yaitu 347 persen dari PDB, disusul Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina yang juga mencatat angka tinggi.
  • Indonesia memiliki total utang 79 persen terhadap PDB—terendah di antara banyak negara ASEAN—menunjukkan beban utangnya masih relatif terkendali dibanding tetangga regional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
2025

Visual Capitalist merilis data terbaru dari Global Debt Monitor milik Institute of International Finance yang menyoroti lonjakan utang global. Beberapa ekonomi utama tercatat memiliki beban utang melebihi 300 persen terhadap PDB.

kini

Indonesia memiliki total utang sebesar 79 persen terhadap PDB, jauh di bawah banyak negara ASEAN lain. Visual Capitalist mencatat lonjakan utang global masih dipicu dampak krisis beberapa tahun terakhir dan kebijakan fiskal yang longgar di banyak negara.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Laporan terbaru menunjukkan lonjakan utang global pada 2025, dengan sejumlah negara memiliki rasio utang terhadap PDB yang sangat tinggi, sementara posisi Indonesia relatif rendah dibanding banyak negara lain.
  • Who?
    Negara-negara seperti Hong Kong, Jepang, Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina, dan Indonesia menjadi fokus dalam data yang disusun oleh Visual Capitalist berdasarkan Global Debt Monitor milik Institute of International Finance.
  • Where?
    Data mencakup berbagai negara di dunia termasuk kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara; laporan ini juga menyoroti posisi Indonesia di antara negara-negara ASEAN.
  • When?
    Laporan mengenai kondisi utang global ini dirilis pada tahun 2025 berdasarkan data terkini dari Visual Capitalist dan Global Debt Monitor.
  • Why?
    Peningkatan utang global dipicu oleh dampak krisis beberapa tahun terakhir, termasuk stimulus pandemi COVID-19, belanja industri besar-besaran, serta kebutuhan pertahanan di berbagai negara.
  • How?
    Kombinasi pinjaman rumah tangga, korporasi, dan pemerintah menyebabkan total beban utang sejumlah negara melebihi 300 persen PDB; Indonesia tercatat hanya sekitar 79 persen terhadap PDB-nya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Banyak negara di dunia sekarang punya utang yang sangat besar. Hong Kong dan Jepang punya utang paling banyak, lebih dari tiga kali uang yang mereka hasilkan. Singapura juga punya utang tinggi di Asia Tenggara. Tapi Indonesia utangnya kecil dibanding negara lain, jadi masih aman. Sekarang banyak negara susah karena ekonomi belum stabil.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Di tengah meningkatnya kekhawatiran atas lonjakan utang global, posisi Indonesia menunjukkan ketahanan yang patut dicatat. Dengan total utang hanya 79 persen terhadap PDB—jauh di bawah banyak negara lain di Asia Tenggara—beban keuangan nasional tampak lebih terkendali. Komposisi utang yang relatif seimbang antara rumah tangga, korporasi, dan pemerintah mencerminkan pengelolaan ekonomi yang berhati-hati.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Lonjakan utang global makin jadi sorotan pada 2025. Sejumlah negara bahkan memiliki total utang yang nilainya jauh melampaui produk domestik bruto (PDB) mereka.

Data terbaru dari Visual Capitalist yang dikutip dari Global Debt Monitor milik Institute of International Finance, beberapa ekonomi utama sekarang memiliki total beban utang yang melebihi 300 persen dari PDB.

Hal tersebut berarti gabungan pinjaman rumah tangga, korporasi, dan pemerintah mereka bernilai lebih dari tiga tahun output ekonomi.

Di tengah daftar negara dengan 35 utang jumbo yang divisualisasikan oleh Visual Capitalist, posisi Indonesia ternyata masih relatif rendah dibanding banyak negara lain, termasuk beberapa tetangga di ASEAN.

1. Hong Kong dan Jepang jadi negara paling terlilit utang

Ilustrasi utang (IDN Times/Nathan Manaloe)

Hong Kong menempati posisi pertama negara dengan total utang terbesar di dunia. Total utangnya mencapai 380 persen terhadap PDB. Angka ini berasal dari kombinasi utang rumah tangga sebesar 86 persen, utang korporasi 227 persen, dan utang pemerintah 67 persen PDB.

Di posisi kedua ada Jepang dengan rasio total utang mencapai 372 persen terhadap PDB. Yang paling menonjol adalah utang pemerintah Jepang yang menyentuh 199 persen PDB. Sisanya adalah utang rumah tangga 60 persen dan utang korporasi sebesar 113 persen.

2. Singapura negara ASEAN dengan rasio utang terbesar

potret Merlion Park Singapura (pexels.com/Virginia Chien)

Sementara itu, Singapura menjadi negara ASEAN dengan rasio utang terbesar. Negeri Singa mencatat total utang sebesar 347 persen terhadap PDB, terdiri dari utang rumah tangga 45 persen, korporasi 130 persen, dan pemerintah 172 persen.

Selain Singapura, beberapa negara ASEAN lain juga masuk daftar negara dengan utang tinggi dunia, seperti Malaysia (224 persen PDB), Thailand (223 persen PDB), Vietnam (161 persen PDB), dan Filipina (96 persen PDB).

3. Di mana posisi Indonesia?

ilustrasi utang (IDN Times/Aditya Pratama)

Indonesia tercatat memiliki total utang sebesar 79 persen terhadap PDB. Angka itu berasal dari utang rumah tangga 15 persen, utang korporasi 24 persen, dan utang pemerintah 40 persen.

Dengan angka tersebut, Indonesia berada jauh di bawah sejumlah negara ASEAN lain. Bahkan, Indonesia menjadi salah satu negara dengan rasio utang paling rendah di Asia Tenggara dalam daftar tersebut dibandingkan negara-negara berikut:

  • Singapura: 347 persen PDB

  • Malaysia: 224 persen PDB

  • Thailand: 223 persen PDB

  • Vietnam: 161 persen PDB

  • Filipina: 96 persen PDB

  • Laos: 114 persen

Artinya, beban utang Indonesia secara keseluruhan masih lebih terkendali dibanding banyak negara tetangga.

Meski begitu, Visual Capitalist menjelaskan lonjakan utang global dipicu berbagai krisis dalam beberapa tahun terakhir. Mulai dari stimulus besar saat pandemik COVID-19, belanja industri, hingga kebutuhan pertahanan di sejumlah negara.

Banyak pemerintah masih menjalankan defisit fiskal besar, sedangkan sektor rumah tangga dan korporasi menghadapi biaya pinjaman yang makin mahal akibat ketidakpastian ekonomi global.

Adapun tingginya rasio utang tidak selalu berarti kondisi ekonomi sebuah negara buruk. Di Hong Kong misalnya, tingginya utang korporasi banyak dipengaruhi sektor properti dan bisnis yang memang sangat aktif menggunakan pembiayaan utang.

Editorial Team