Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
OVO Ajak Masyarakat Waspada Modus Penipuan Digital, Ini Caranya
Ilustrasi aplikasi OVO. (Dok/Istimewa).
  • OVO mendukung Gerakan Bersama Edukasi Perlindungan Konsumen (GEBER PK) bersama Bank Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap penipuan digital dan mendorong transaksi hanya melalui kanal resmi.
  • Beragam modus penipuan digital marak terjadi, seperti layanan pelanggan palsu, file APK berbahaya, serta promo atau cashback palsu yang mencuri data pribadi pengguna.
  • OJK mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap penipuan berbasis AI yang mampu meniru suara seseorang dan menegaskan pentingnya verifikasi identitas sebelum memberikan data sensitif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Transaksi digital makin memudahkan masyarakat, mulai dari belanja hingga kirim uang. Namun, kemudahan ini juga menghadirkan risiko penipuan yang semakin beragam. Menyikapi hal itu, OVO (PT Visionet Internasional) mendukung Gerakan Bersama Edukasi Perlindungan Konsumen (GEBER PK), kolaborasi Bank Indonesia dan pelaku industri, untuk mendorong masyarakat lebih waspada dan bertransaksi aman melalui kanal resmi.

Melalui dukungan ini, OVO mengajak masyarakat untuk semakin mengenali berbagai modus penipuan digital dan membiasakan langkah-langkah sederhana agar bisa bertransaksi dengan lebih aman.

“Sebagai platform pembayaran digital, OVO berkomitmen untuk terus menghadirkan layanan yang aman sekaligus memperkuat perlindungan konsumen. Kami percaya bahwa edukasi menjadi garis pertahanan pertama dalam menghadapi risiko penipuan digital. Melalui dukungan terhadap GEBER PK, OVO mendorong masyarakat untuk lebih waspada dengan membiasakan langkah sederhana seperti cek dan verifikasi, serta memastikan transaksi hanya dilakukan melalui kanal resmi agar terhindar dari berbagai modus penipuan,” ujar Head of Strategy, Integrated Marketing Communication, OVO, Asep Haekal, dalam keterangannya, Senin (4/5/2026).

1. Deretan modus yang sering ditemui konsumen

ilustrasi transaksi (pexels.com/Ivan Samkov)

Di tengah meningkatnya penggunaan layanan digital, penipuan pun ikut berkembang. Pelaku tidak hanya memanfaatkan celah teknologi, tetapi juga kepanikan, rasa terburu-buru, dan kurangnya verifikasi dari pengguna. Beberapa modus yang masih sering ditemui antara lain:

  1. Layanan pelanggan palsu
    Pelaku mencantumkan nomor layanan palsu di hasil pencarian internet atau media sosial, lalu meminta korban memberikan data pribadi seperti OTP, PIN, atau informasi akun. Seringkali korban juga diarahkan melakukan transfer dengan dalih penyelesaian masalah akun.

  2. Undangan digital atau file APK berbahaya
    File yang diklaim undangan atau promo bisa mengandung malware yang membahayakan perangkat dan mencuri data.

  3. Promo atau cashback palsu
    Modus ini mengarahkan pengguna ke situs tidak resmi untuk mencuri data login atau informasi pembayaran.

2. Langkah sederhana untuk transaksi aman

Ilustrasi transaksi dengan QRIS (Pexels.com/ iMin Technology)

Agar terhindar dari penipuan digital, masyarakat dianjurkan membiasakan langkah-langkah berikut:

  • Jangan sembarangan mengklik link atau mengunduh file dari sumber tidak dikenal.

  • Jangan pernah membagikan OTP, PIN, atau kode verifikasi kepada siapa pun, termasuk pihak yang mengaku petugas resmi.

  • Saat menerima pesan mendesak atau mencurigakan, berhenti sejenak dan lakukan pengecekan.

  • Pastikan nama penerima benar sebelum menyelesaikan transaksi, serta laporkan aktivitas mencurigakan melalui kanal resmi.

Prinsipnya sederhana: kalau ragu, stop dulu. Berhenti sejenak, cek ulang, dan pastikan semua dilakukan melalui kanal resmi. Langkah kecil ini bisa membantu masyarakat terhindar dari risiko penipuan yang lebih besar.

3. OJK minta masyarakat waspadai penipuan berbasis AI

Ilustrasi Artificial Intelligence atau AI (Freepik/Rawpixel)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap penipuan berbasis Artificial Intelligence AI, yang belakangan marak dan berpotensi menimbulkan kerugian.

Mengutip akun resmi @ojkindonesia, OJK menjelaskan bahwa AI dapat meniru suara seseorang hanya dengan sampel suara singkat. Teknologi ini menganalisis nada, cara berbicara, dan aksen, sehingga menghasilkan suara tiruan yang terdengar sangat mirip dengan aslinya.

"Sekarang AI bisa niru suara orang terdekat kamu. Dari cuma sampel singkat, suaranya bisa kedengeran real banget, masalahnya, hal ini bisa dipakai buat modus penipuan.
Jadi jangan langsung percaya, walaupun suaranya familiar. Ingat ya selalu verifikasi identitas penelepon dan jangan pernah kasih PIN, OTP, atau pun data rekening kamu," tulis OJK.

Editorial Team