Indonesia Pavilion di World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos, Swiss, 20 Januari 2026 (Alya Dwi Achyarini/IDN Times)
Masuk dari sisi investor, Kathryn Koch memberi konteks mengapa pembiayaan berkelanjutan di emerging markets perlu dibaca sebagai peluang portofolio. TCW, katanya, sudah puluhan tahun terhubung dengan Indonesia lewat kemitraan strategis dan investasi di surat utang pemerintah maupun korporasi.
Namun, ia menilai persoalan strukturalnya jelas, yakni global capital pool masih menyalurkan porsi terbatas ke emerging markets, sementara kebutuhan investasi termasuk untuk energi membesar.
“Global capital pool masih menyalurkan kurang dari 10% ke pasar emerging,” tutur Kathryn.
Kathryn menyebut kondisi tersebut bersamaan dengan meningkatnya kebutuhan energi dunia dipicu elektrifikasi berbagai sektor dan geliat AI, yang pada akhirnya menuntut kombinasi sumber energi tradisional dan energi terbarukan.
Dalam kerangka itu, Indonesia dinilai memiliki vector yang beragam, antara lain, surya, angin, hydro, panas bumi, hingga bioenergi. Bagi investor, ini berarti pipeline peluang yang luas, asalkan dipresentasikan dengan struktur proyek yang bankable dan tata kelola yang kredibel.
Ketika ditanya bagaimana Indonesia bisa “menang” dalam kompetisi menarik investor berkelanjutan di kawasan, Koch menekankan tiga hal. Pertama, blended finance, yakni memasukkan modal konsesional (dukungan pemerintah/filantropi) agar investor lebih nyaman terhadap profil risiko.
Kedua, standardisasi instrumen agar likuid dan mudah masuk portofolio manajer aset global. Ketiga, memastikan proyek berkualitas tinggi dengan proses yang transparan, karena kepercayaan investor dibangun lewat track record, bukan sekadar presentasi.