Jakarta, IDN Times - Rencana pemerintah menambah layer (lapisan) tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) menuai perhatian kalangan akademisi. Peneliti senior Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran (FEB Unpad), Wawan Hermawan menilai, kebijakan tersebut menyimpan paradoks apabila tidak dirancang secara hati-hati (pruden).
Menurut Wawan, penambahan lapisan yang ditujukan untuk menarik produk di segmen bawah ke dalam sistem kepatuhan berisiko mengaburkan batas antara pasar legal dan ilegal. Selain itu, juga membuka ruang pergeseran konsumsi (down-trading) apabila struktur tarifnya tidak tepat.
“Jika layer baru ditempatkan di segmen murah, maka harus ada desain kompensasi kebijakan agar konsumen tidak terdorong berpindah dari produk legal ke produk berisiko ilegal. Tanpa itu, tujuan fiskal justru bisa berbalik arah. Hal ini karena walaupun konsumsi rokok secara total tidak mudah turun, konsumen sangat peka terhadap selisih harga, sehingga mudah berpindah ke produk yang lebih murah atau ilegal,” kata Wawan, dikutip Jumat (23/1/2026).