Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
7 Perbedaan MSCI dan FTSE yang Wajib Dipahami Investor
ilustrasi saham (unsplash.com/Jamie Street)

Intinya sih...

  • MSCI dan FTSE memiliki latar belakang institusi dan sejarah berbeda, memengaruhi dominasi arus modal lintas negara.

  • Perbedaan MSCI dan FTSE terlihat dari klasifikasi pasar negara, mempengaruhi komposisi indeks emerging market.

  • Cakupan kapitalisasi pasar dalam metodologi indeks tidak sama, memengaruhi jumlah saham dalam indeks global.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Dalam beberapa tahun terakhir, isu masuk atau keluarnya saham Indonesia dari indeks global kerap menjadi perhatian pelaku pasar, baik investor ritel maupun institusi. Dua nama yang paling sering disebut dalam konteks ini adalah MSCI dan FTSE Russell, yang sama-sama berperan sebagai penyedia indeks saham global dan dijadikan acuan oleh dana investasi bernilai triliunan dolar Amerika Serikat (AS).

Ketika salah satu dari mereka mengumumkan review atau rebalancing indeks, pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) bisa langsung mengalami lonjakan volume transaksi yang signifikan. Namun, perbedaan MSCI dan FTSE sebenarnya tidak hanya soal efek jangka pendek terhadap harga saham, melainkan juga menyangkut metodologi, klasifikasi pasar, cakupan kapitalisasi, hingga dominasi arus dana global yang mengikuti masing-masing indeks tersebut.

Memahami detail perbedaannya akan membantu investor membaca sentimen pasar dengan lebih rasional dan tidak sekadar terbawa hype. Berikut tujuh perbedaan MSCI dan FTSE yang perlu kamu pahami secara lebih mendalam.

1. MSCI dan FTSE memiliki latar belakang institusi dan sejarah berbeda

ilustrasi saham (unsplash.com/Anne Nygård)

MSCI atau Morgan Stanley Capital International merupakan penyedia indeks global yang berbasis di AS dan telah dikenal sejak akhir 1960-an sebagai acuan utama bagi investor institusi global. Seiring waktu, indeks MSCI berkembang menjadi benchmark yang sangat dominan, khususnya di kalangan manajer aset dan pengelola dana pensiun berbasis Amerika, sehingga setiap perubahan komposisi indeksnya dapat berdampak luas terhadap arus modal lintas negara.

Di sisi lain, FTSE yang merupakan singkatan dari Financial Times Stock Exchange kini beroperasi sebagai FTSE Russell di bawah naungan London Stock Exchange Group (LSEG) yang berbasis di Inggris. Dengan akar yang kuat di pasar Eropa, FTSE cenderung lebih banyak dijadikan referensi oleh investor institusi berbasis Inggris dan kawasan Eropa, meskipun cakupannya tetap bersifat global. Perbedaan latar belakang geografis dan sejarah perkembangan inilah yang menjadi fondasi awal dari perbedaan MSCI dan FTSE dalam peta investasi dunia.

2. Perbedaan MSCI dan FTSE terlihat jelas dari klasifikasi pasar negara

ilustrasi saham (unsplash.com/Nick Chong)

Salah satu aspek paling krusial dalam perbedaan MSCI dan FTSE adalah cara masing-masing lembaga mengklasifikasikan suatu negara ke dalam kategori pasar maju atau pasar berkembang. Penentuan ini tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan melalui serangkaian kriteria ketat yang mencakup likuiditas pasar, keterbukaan terhadap investor asing, stabilitas regulasi, hingga kemudahan transaksi dan penyelesaian perdagangan saham.

Sebagai contoh yang sering dibahas, Korea Selatan masih dikategorikan sebagai emerging market oleh MSCI karena dinilai belum sepenuhnya memenuhi standar tertentu yang ditetapkan lembaga tersebut. Sebaliknya, FTSE telah mempromosikan Korea Selatan ke dalam kategori developed market karena menilai struktur pasarnya sudah cukup maju dan stabil. Perbedaan klasifikasi ini berdampak langsung pada komposisi indeks emerging market masing-masing, sehingga bobot negara dan saham di dalamnya bisa sangat berbeda.

3. Cakupan kapitalisasi pasar dalam metodologi indeks tidak sama

ilustrasi saham (unsplash.com/Tötös Ádám)

Dalam menyusun indeks globalnya, MSCI umumnya hanya mencakup sekitar 85 persen kapitalisasi pasar saham yang dianggap layak investasi di suatu negara atau kawasan. Artinya, MSCI lebih fokus pada saham berkapitalisasi besar dan menengah yang memiliki likuiditas tinggi serta free float yang memadai, sementara saham dengan kapitalisasi kecil cenderung tidak masuk dalam indeks utama globalnya.

Sebaliknya, FTSE menerapkan pendekatan yang relatif lebih luas dengan cakupan hingga 90–95 persen dari total kapitalisasi pasar yang dapat diinvestasikan. Pendekatan ini membuat FTSE memasukkan lebih banyak saham berkapitalisasi menengah bahkan sebagian small cap ke dalam indeks globalnya. Inilah salah satu faktor utama yang menjelaskan mengapa jumlah konstituen dalam indeks FTSE biasanya lebih banyak dibandingkan dengan indeks MSCI pada kategori yang setara.

4. Jumlah saham dalam indeks global menunjukkan perbedaan signifikan

ilustrasi saham (pexels.com/Pixabay)

Jika dibandingkan secara angka, jumlah saham dalam indeks global MSCI dan FTSE menunjukkan selisih yang cukup mencolok. Indeks MSCI All World, misalnya, memuat sekitar 2 ribuan saham dari gabungan pasar maju dan berkembang, yang dipilih berdasarkan kriteria kapitalisasi pasar dan likuiditas yang ketat sehingga menghasilkan komposisi yang relatif lebih selektif.

Sementara itu, FTSE All-World dapat memuat lebih dari 4 ribu saham dari berbagai negara di dunia, mencerminkan cakupan yang lebih luas dalam pendekatan metodologinya. Dengan jumlah konstituen yang lebih banyak, indeks FTSE menawarkan tingkat diversifikasi yang lebih tinggi, tetapi di sisi lain juga membuat bobot masing-masing saham menjadi lebih tersebar. Perbedaan ini penting dipahami karena akan memengaruhi strategi diversifikasi portofolio bagi investor yang mengikuti indeks tersebut.

5. Skala arus dana global yang mengikuti indeks berbeda

ilustrasi saham (unsplash.com/Markus Winkler)

Dalam praktiknya, masuk atau keluarnya saham dari indeks MSCI sering kali memicu lonjakan transaksi yang signifikan di pasar saham Indonesia, terutama karena banyak dana pasif global menjadikan MSCI sebagai benchmark utama mereka. Ketika suatu saham ditambahkan ke dalam indeks MSCI Emerging Markets, misalnya, ETF dan dana indeks yang melacak indeks tersebut wajib membeli saham itu dalam jumlah besar untuk menyesuaikan portofolionya.

FTSE juga memiliki mekanisme rebalancing yang dapat memicu arus dana masuk dan keluar, tetapi secara umum skala dana pasif yang mengikuti FTSE dinilai lebih kecil dibandingkan MSCI. Hal ini disebabkan dominasi investor berbasis Amerika Serikat dalam industri ETF global yang sebagian besar menggunakan indeks MSCI sebagai acuan. Meski demikian, pengaruh FTSE tetap relevan dan tidak bisa diabaikan, terutama bagi saham yang memiliki eksposur kuat terhadap investor Eropa.

6. Produk indeks yang ditawarkan memiliki fokus dan variasi berbeda

ilustrasi saham (pexels.com/Tima Miroshnichenko)

MSCI menawarkan berbagai jenis indeks yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan investor dengan strategi berbeda, mulai dari indeks global seperti MSCI World hingga MSCI Emerging Markets yang populer di kalangan investor negara berkembang. Selain itu, MSCI juga memiliki indeks sektoral dan faktor seperti minimum volatility, value, dan growth yang memungkinkan investor menyusun strategi berbasis karakteristik tertentu dari saham.

Di sisi lain, FTSE dikenal luas melalui indeks seperti FTSE 100 yang berisi 100 perusahaan terbesar di Inggris dan sering dijadikan barometer kesehatan ekonomi negara tersebut. FTSE juga memiliki FTSE Global Equity Index Series (GEIS) yang mencakup ribuan saham dari puluhan negara di dunia, termasuk Indonesia. Variasi produk ini menunjukkan perbedaan MSCI dan FTSE tidak hanya pada cakupan geografis, tetapi juga pada pendekatan segmentasi produk indeksnya.

7. Persepsi dan antusiasme pasar Indonesia terhadap MSCI lebih tinggi

ilustrasi saham (pexels.com/Aedrian Salazar)

Di Indonesia, setiap pengumuman terkait MSCI sering kali menjadi sorotan utama media dan komunitas investor karena dianggap memiliki dampak besar terhadap arus dana asing dan pergerakan saham blue chip. Banyak investor ritel yang mencoba mengantisipasi potensi saham yang akan masuk atau keluar dari indeks MSCI dengan harapan memperoleh keuntungan dari lonjakan harga jangka pendek.

Sementara itu, FTSE tetap diperhatikan oleh analis dan manajer investasi profesional, tetapi tingkat pemberitaan dan diskusinya di kalangan investor ritel relatif tidak sebesar MSCI. Perbedaan persepsi ini membuat MSCI sering disebut sebagai “pemain utama” dalam menentukan arah dana asing di pasar Indonesia, sedangkan FTSE dipandang sebagai acuan penting namun dengan skala eksposur yang lebih terbatas. Meski begitu, keduanya tetap memiliki peran strategis dalam ekosistem investasi global yang saling melengkapi.

Pada akhirnya, memahami perbedaan MSCI dan FTSE membantu investor melihat pergerakan pasar dengan sudut pandang yang lebih jernih dan tidak sekadar mengikuti sentimen. Dengan memahami metodologi, klasifikasi pasar, dan dampaknya terhadap arus dana asing, kamu bisa menyusun strategi investasi yang lebih rasional dan terukur. Literasi ini penting agar keputusan yang diambil tetap selaras dengan tujuan keuangan jangka panjang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team