Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Permintaan Emas Batangan dan Koin di Indonesia Melonjak 47 Persen
ilustrasi emas batangan (pexels.com/Zlaťáky.cz)
  • Permintaan emas batangan dan koin di Indonesia naik 47 persen yoy pada kuartal I-2026, mencerminkan kepercayaan investor terhadap emas sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi.
  • ETF emas fisik global tumbuh 62 ton, didorong bursa Asia dan perkembangan ekosistem investasi emas digital serta regulasi baru di Indonesia yang memperluas akses pasar dan memperkuat kepercayaan investor.
  • Permintaan perhiasan emas global turun 23 persen akibat harga tinggi, sementara produksi tambang Indonesia naik 19 persen berkat pemulihan Batu Hijau, mendorong rekor pasokan kuartalan dunia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Laporan Gold Demand Trends Q1 2026 dari World Gold Council mencatat total permintaan emas global, termasuk transaksi over-the-counter (OTC), mencapai 1.231 ton pada kuartal I-2026. Angka tersebut naik 2 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Meski kenaikan volumenya terbatas, nilai permintaan emas melonjak tajam menjadi 193 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau naik 74 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan permintaan didorong meningkatnya minat investor ritel terhadap emas sebagai aset safe haven di tengah momentum kenaikan harga dan ketidakpastian global. Permintaan emas batangan dan koin tercatat naik 42 persen yoy menjadi 474 ton.

Permintaan di China melonjak 67 persen yoy menjadi 207 ton dan menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah secara kuartalan. Kenaikan juga terjadi di sejumlah pasar Asia lain, seperti India, Korea Selatan, dan Jepang.

Selain Asia, permintaan emas batangan dan koin di Amerika Serikat dan Eropa masing-masing meningkat 14 persen dan 50 persen.

1. Permintaan emas di Indonesia naik 47 persen

Emas batangan (unsplash.com/id/Zlataky)

Di Indonesia, permintaan emas batangan dan koin meningkat 47 persen secara tahunan. Kenaikan tersebut disebut mencerminkan tren global yang menunjukkan emas masih dipilih investor sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi dan inflasi.

Dalam laporan itu disebutkan, emas selama ini dinilai mampu menjaga daya beli masyarakat Indonesia, termasuk saat terjadi pelemahan rupiah dan tekanan pasar. Pada krisis finansial Asia 1997-1998, emas disebut menjadi salah satu instrumen yang membantu mempertahankan nilai kekayaan masyarakat ketika rupiah terdepresiasi tajam.

Pada 2025, performa emas juga tercatat melampaui mayoritas saham domestik dan global serta obligasi berbasis rupiah. Sementara pada kuartal I-2026, harga emas naik 14 persen dalam denominasi rupiah ketika pasar saham domestik terkoreksi hingga 13 persen.

World Gold Council juga mencatat rata-rata pertumbuhan emas dalam rupiah mencapai sekitar 15 persen per tahun dalam 20 tahun terakhir. Berdasarkan analisis lembaga tersebut, alokasi emas sebesar 2,5 persen dinilai dapat membantu meningkatkan diversifikasi portofolio investor Indonesia.

2. Permintaan ETF emas fisik masih tumbuh

ilustrasi emas digital dari platform resmi (pexels.com/Michael Steinberg)

Permintaan exchange traded fund (ETF) emas berbasis fisik tetap tumbuh pada kuartal I-2026 dengan kenaikan kepemilikan global sebesar 62 ton. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang bursa-bursa Asia yang mencatat tambahan 84 ton sepanjang kuartal pertama. Namun, arus keluar dana pada Maret 2026, khususnya dari ETF yang tercatat di Amerika Serikat, menahan laju pertumbuhan yang sebelumnya cukup kuat di awal tahun.

Di Indonesia, tren investasi ETF emas fisik disebut mulai berkembang seiring munculnya sejumlah regulasi baru. World Gold Council menyoroti pertumbuhan pasar emas digital, peluncuran Bullion Ecosystem Development Roadmap 2026-2031, serta regulasi ETF emas fisik dari Otoritas Jasa Keuangan sebagai bagian dari upaya memperluas akses investasi emas.

Head of Asia-Pacific (ex-China) dan Global Head of Central Banks World Gold Council, Shaokai Fan menyebut, situasi geopolitik global masih mendorong investor memilih emas sebagai aset safe-haven.

“Di Indonesia, kepercayaan ini tidak hanya tercermin pada permintaan fisik, tetapi juga pada evolusi pasarnya. Pertumbuhan platform digital dan inisiatif bullion banking adalah langkah krusial dalam menghapus hambatan akses dan memperkuat kepercayaan pasar," kata dia.

Menurutnya, perkembangan platform digital dan inisiatif bullion banking di Indonesia menjadi langkah penting untuk memperluas akses masyarakat terhadap investasi emas dan memperkuat kepercayaan pasar.

World Gold Council juga menilai produk ETF berbasis emas fisik yang dirancang sesuai prinsip syariah berpotensi menarik minat investor Muslim di Indonesia.

"Ekosistem emas berbasis Syariah yang terus berkembang akan memperkuat daya tarik emas sebagai instrumen pelindung kekayaan jangka panjang," paparnya.

3. Permintaan perhiasan turun, produksi tambang Indonesia naik

Emas Perhiasan (IDN Times/Feny Maulia Agustin)

Di sisi lain, volume permintaan perhiasan emas global turun 23 persen yoy menjadi 300 ton akibat tingginya harga emas. Penurunan terjadi di sejumlah pasar utama seperti Tiongkok yang turun 32 persen, India 19 persen, Timur Tengah 23 persen, dan Indonesia 20 persen.

Meski demikian, nilai belanja perhiasan tetap meningkat karena konsumen masih membeli emas di tengah harga yang berada di level tinggi. Sebagian permintaan perhiasan juga disebut beralih ke emas batangan dan koin, terutama di Tiongkok dan India.

Pada kuartal I-2026, bank sentral global menambah 244 ton emas ke cadangan devisa mereka. Bank Indonesia tercatat menambah 2 ton emas ke cadangan devisa nasional.

Di sisi pasokan, total suplai emas global naik 2 persen yoy menjadi 1.231 ton. Produksi tambang mencetak rekor baru untuk kuartal pertama, termasuk didorong kenaikan produksi di Indonesia sebesar 19 persen setelah pemulihan produksi tambang Batu Hijau usai ekspansi fasilitas pengolahan. Sementara itu, aktivitas daur ulang emas hanya naik 5 persen meski harga emas berada di level tinggi.

Senior Markets Analyst World Gold Council, Louise Street, menyebut volatilitas harga emas meningkat sepanjang 2026 dengan harga sempat menembus 5.400 dolar AS per troy ons pada Januari 2026.

"Ke depan, ketidakpastian geopolitik diperkirakan akan tetap menjadi pilar pendukung permintaan emas. Permintaan perhiasan diperkirakan tetap tangguh meskipun harga tinggi, sementara pasokan dari tambang diperkirakan akan tumbuh secara moderat, meskipun mungkin menghadapi kendala pasokan energi," ujarnya.

Editorial Team