Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto
Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Intinya sih...

  • Konsumsi dan sektor riil menguat, didorong oleh stimulus fiskal dan bansos

  • Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 mencapai 5,11 persen, dengan PDB sebesar Rp23.821,1 triliun

  • Industri pengolahan menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Airlangga Hartarto menanggapi capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 yang masih berada di bawah target pemerintah.

Dia menjelaskan fokus utama pemerintah berada pada kinerja ekonomi di kuartal IV, yang ditargetkan tumbuh 5,4 persen. Ralisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV tercatat sebesar 5,39 persen, atau hanya sedikit di bawah target yang ditetapkan.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi tahunan 2025 yang berada di level 5,11 persen disebut tidak terlepas dari lemahnya kinerja ekonomi pada awal tahun. Airlangga menilai pertumbuhan pada Januari relatif rendah.

"Ya kan kita lihat bahwa yang kita dorong, yang kita dorong di kuartal ke-empat target 5,4 persen, dicapainya 5,39 persen. Dan memang kalau pertumbuhan 5,11 persen itu karena di Januari-nya terlalu rendah," kata Airlangga kepada jurnalis di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (5/2/2026).

1. Konsumsi dan sektor riil dinilai menguat

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (IDN Times/Aditya Pratama)

Airlangga menambahkan, capaian pertumbuhan ekonomi tersebut sejalan dengan berbagai program pemerintah yang digulirkan sepanjang 2025. Dia menyebut pemerintah mengucurkan stimulus fiskal, termasuk bantuan sosial (bansos), yang berdampak pada meningkatnya konsumsi masyarakat.

Selain konsumsi, Airlangga menilai kinerja sejumlah sektor utama juga menunjukkan tren positif. Dia menyebut sektor industri, perdagangan, dan pertanian mencatatkan pertumbuhan yang cukup baik dan bahkan berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.

"Jadi konsumsinya terdorong, sektor riil-nya juga baik, tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi, dan kemudian tentunya distribusi daripada anggaran. Jadi engine-nya semua bergerak," paparnya.

2. Detail pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (IDN Times/Aditya Pratama)

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 mencapai 5,11 persen secara tahunan (year on year). Capaian tersebut mencerminkan ketahanan ekonomi nasional yang tetap terjaga di tengah dinamika perekonomian global.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB), ekonomi Indonesia sepanjang 2025 tercatat sebesar Rp23.821,1 triliun atas dasar harga berlaku (ADHB) dan Rp13.580,5 triliun atas dasar harga konstan (ADHK).

“Secara kumulatif, perekonomian Indonesia selama tahun 2025 tumbuh sebesar 5,11 persen,” ujar Amalia dalam konferensi pers, Kamis (5/2/2026).

Sementara itu, perekonomian Indonesia pada kuartal IV 2025 tumbuh 5,39 persen secara tahunan (yoy). Pada periode tersebut, PDB Indonesia tercatat sebesar Rp6.147,2 triliun (ADHB) dan Rp3.474,5 triliun (ADHK).

“Pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 sebesar 5,39 persen merupakan pertumbuhan tahunan triwulan IV yang tertinggi sejak pandemi COVID-19,” jelasnya.

3. Industri pengolahan jadi penopang pertumbuhan

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (IDN Times/Arief Rahmat)

BPS mencatat industri pengolahan menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV, yang tumbuh 5,39 persen secara tahunan. Industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan terbesar dengan kontribusi 1,01 basis poin terhadap laju pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025

“Industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan terbesar karena memberikan kontribusi 1,01 basis poin,” ujar Amalia.

Selain industri pengolahan, lapangan usaha perdagangan juga memberikan dorongan signifikan dengan sumber pertumbuhan sebesar 0,79 persen, seiring meningkatnya aktivitas konsumsi dan distribusi barang pada akhir tahun.

"Selanjutnya, sektor informasi dan komunikasi menyumbang 0,55 persen. Adapun sektor pertanian memberikan kontribusi sebesar 0,51 persen," katanya.

Editorial Team